Minggu, 30 Mei 2010
Kristus vs Perjanjian Lama

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)

      Mendengar delapan ucapan bahagia yang diakhiri dengan penegasan panggilan hidup sebagai garam dan terang dunia, mungkin membuat sebagian besar pendengar, yang adalah orang Yahudi, berpikir Yesus sedang mengajarkan sebuah ajaran baru yang berbeda dengan ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka tidak pernah diajar dan belajar untuk menjadi orang yang miskin (dalam pengertian benar-benar miskin, sampai-sampai tidak mempunyai suatu harta sedikitpun) di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hatinya, suci hatinya, membawa damai, dan bersedia menanggung derita demi iman. Mereka lebihterbiasa melihat teladan orang-orang yang "menguasai Taurat" yang merasa kaya di hadapan Tuhan (merasa diri benar dan layak di hadapan Tuhan karena mereka keturunan Abraham dan sudah melakukan "seluruh" hukum Taurat), tidak suka berdamai (karena lebih menekankan hukum "mata ganti mata, gigi ganti gigi"), tidak murah hati, dan lain sebagainya. Sehingga ajaran (penafsiran hukum taurat) dan teladan hidup yang keliru itulah yang mereka anggap ajaran dari Tuhan (Hukum Taurat).

      Menghadapi anggapan demikian inilah, maka Yesus, sebelum melanjutkan pengajaran-Nya, menegaskan bahwa la bukan mengajarkan sebuah hukum baru untuk mengganti hukum Taurat (karena hukum Taurat itu adalah hukum Tuhan sendiri yang tidak dapat berubah dan tidak boleh diubah—hal ini ditegaskan dengan menyatakan bahwa tidak ada satu iota [abjad Ibrani terkecil]pun yang akan hilang dari hukum Taurat tersebut). Justru Yesus datang, mengajar, dan memberikan teladan hidup yang sesuai dengan hukum Taurat yang Tuhan telah berikan melalui perantaraan Musa. Perbedaan yangterjadi antara ajaran Yesus dan ajaran ahli Taurat menunjukkan betapa kelirunya penafsiran orang-orang Farisi dan ahli Taurat

Namun kekeliruan penafsiran itu bukan hanya berdampak kepada kelirunya pengajaran (knowledge) saja, tetapi juga berdampak pada kekeliruan cara pikir dan gaya hidup umat Tuhan. Yang lebih celaka, ketika umat Tuhan hidup bukan dengan cara pikir dan gaya hidup yang seharusnya, maka diwaktu itulah umat Tuhan tidak dapat (dan tidak mungkin) menjadi garam dan terang dunia. Dengan kata lain, pengajaran yang keliru justru menjadi gantang (ay. 15) yang membuat terang itu tidak dapat bersinar keluar.

Bagian firman Tuhan hari ini ingin mengingatkan kita akan dua hal: Pertama, man kita belajar firman dengan serius dan dengan benar, karena kekeliruan penafsiran firman Tuhan yang benar akan menyebabkan akibat yang fatal, Kedua, mari kita mengevaluasi diri, apakah kehidupan saya sudah menjadi terang yang membuat orang-orang di luar Tuhan itu dapat memuliakan Tuhan (ay. 16)? Kalau belum, jangan-jangan kita hanya merasa diri sudah benar, sudah punya pemahaman yang paling benar dan tepat, dan sudah punya doktrin yang paling benar, karena pemahaman doktrin (firman Tuhan) yang benar harus membawa seseorang hidup di dalam kehidupan yang benar, sesuai dengan firman Tuhan, dan menjadi terang di dalam dunia yang gelap.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami