Minggu, 18 April 2010
Bersukacita di Tengah Tekanan

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." (Matius 5:11)

      Salah satu bagian penting dari khotbah Yesus di atas bukit adalah ucapan bahagia (Matius 5:3-13). Berbagai sifat dan perangai anak Tuhan disebutkan di sini (miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, dan pembawa damai). Orang yang memiliki karakter dan level rohani demikian selayaknya menjadi kebanggaan dan panutan dunia, di manapun mereka pergi akan dihormati dan disayangi.

      Namun Yesus menutup bagian ini dengan memaparkan satu fakta yang cukup mengejutkan, "Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan difitnakan segala yang jahat, ... sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu." Ternyata Yesus mengingatkan kita sekalipun telah memiliki karakter dan kehidupan rohani yang baik tidak menjamin anak Tuhan bebas dari kesulitan, penderitaan.dan penganiayaan. Kita tidak perlu cari masalah, masalahlah yang mencari kita, kita tidak perlu mencari kesulitan, kesulitanlah yang akan menghampiri kita. Kedengarannya kurang adil bukan? Mengapa kesalehan dan kebaikan kita tidak diperhitungkan dunia? Mari kita lihat sejenak paparan yang Yesus berikan:

1. Karena Aku, kamu dicela, dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat.
Kristus datang ke dunia untuk menyelesaikan masalah dosa, ketika dosa diungkit dan dibicarakan di permukaan maka orang dunia merasa terusik karena dunia sudah jatuh dalam dosa dan orang dunia merasa nyaman hidup di dalamnya. Saat anak Tuhan menampilkan karakter Kristus dan mencoba untuk hidup benar, pada saat yang sama orang dunia yang sudah menikmati dan berkubang dalam "zona aman dosa" merasa terganggu dan dipermalukan. Yesus katakan mereka berlaku demikian bukan karena kamu tapi karena Kristus.

2. Demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu
Pada bagian ini Yesus memaparkan satu fakta bahwa sejarah Alkitab mencatatkan banyak pendahulu-pendahulu kita juga mendapatkan perlakuan yang sama. Kita tidak perlu merasa menderita sendiri, inilah konsekwensi logis dari jalan kebenaran yang dipilih anak-anak Tuhan. Kita bisa belajar contoh dan keteladanan iman yang mereka tinggalkan.

3. Berbahagialah kamu
Orang Kristen bukanlah seorang "macohist" (merasa nikmat kalau ada penderitaan). Juga bukan orang yang mencari pahala dibalik penderitaan fisik. Jadi pelakuan yang kita alami adalah betul-betul murni penderitaan dan ketidakadilan karena iman kita pada Kristus, dalam kondisi yang demikian Yesus katakan: "Berbahagialah kamu." Berbahagialah karena perjalanan iman dan pengorbanan yang boleh kita alami karena Kristus

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami