| Minggu, 21 Maret 2010
Kesucian yang Mencelikkan Mata Rohani
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)
Dalam diri tiap manusia, ada suatu kerinduan besar untuk berjumpa “Pencipta”nya, lalu kerinduan itu diwujudkan lewat berbagai agama, dengan cara yang bersifat mistis untuk bisa berjumpa dengan Allah, untuk melihat Allah. Tapi, usaha itu salah dan tidak mungkin terjadi! Allah adalah roh, sehingga tidak bisa dilihat secara materi. Yang Tuhan ajarkan di sini, juga bukan tentang suatu pengalaman “penglihatan” yang spektakuler, tapi adalah suatu ajaran rohani lain, yang berkaitan dengan “hati.”
Bangsa Yahudi adalah bangsa yang menyembah Allah yang benar, namun yang menjadi masalah adalah, mereka telah menjadi penyembah-penyembah yang legalis, karena meneladani pemimpin-pemimpin mereka yang legalis. Bacalah kitab-kitab Injil, dan kita akan tahu apa permasalahan mereka, yaitu bahwa mereka (orang Farisi) ialah orang-orang yang hanya mementingkan kesalehan luar, melalui tindakan keagamaan yang kaku. Melalui kecaman Tuhan yang keras terhadap mereka, kita mengerti bahwa Allah lebih melihat hati daripada tindakan luar yang kelihatan.
Hati yang dimaksud adalah menunjuk kepada pusat hidup seseorang, yang bukan hanya tempat sumber kasih dan emosi saja. Hati ialah sumber dari motivasi, yang mendorong semua tindakan manusia. Hati mencakup pikiran dan kehendak. Hati mewakili totalitas manusia. Dan inilah yang ingin Tuhan tekankan. “Berbahagialah orang yang bersih,” bukan hanya yang kelihatan di luar saja, tapi di pusat keberadaannya. Ini adalah gambaran karakter Kristen yang berhati bersih, tulus, tanpa kepalsuan dan kelicikan. Dengan kata lain, karakter Tuhan Yesus sendiri.
Orang yang hatinya bersih, dia akan memiliki kepekaan untuk melihat bagaimana Allah berkarya di dunia ini, dan secara khusus di dalam dirinya. Ketika orang berdosa melihat kebesaran dan keindahan karya Allah di sekitarnya, yang muncul di hatinya adalah keinginan untuk mendapatkan. Ketika dia mendapatkan, yang muncul adalah rasa kebanggaan diri. Tapi, orang yang suci hatinya, akan melihat bahwa semua itu adalah karya Allah. Dia melihat karya Allah di dunia ini, dan karya Allah di dalam dirinya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|