Minggu, 14 Februari 2010
Si Miskin yang Empunya Kerajaan Sorga

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:3)

      Ketika kita membaca tema di atas, tentu kita akan mempertanyakan kebenarannya. Jika si miskin yang memiliki kerajaan sorga, bagaimana dengan si kaya? Jika si miskin yang empunya kerajaan sorga, berarti haruskah semua orang Kristen menjadi miskin? Jika si miskin yang mewarisi kerajaan sorga, bagaimana dengan keadaan gereja yang dipenuhi dengan kekayaan, khususnya gereja yang ada di perkotaan?

      Tentunya, kita tidak boleh menafsirkannya secara hurufiah. Sekalipun gereja pada mulanya dipenuhi dengan kaum fakir miskin, karena menjadi orang Kristen akan mengalami banyak kesulitan, termasuk masalah ekonomi. Sehingga, pada masa para rasul, banyak orang Kristen yang menjual hartanya dan membagikannya kepada mereka yang miskin (Kis. 2:43-47; bnd. Kis. 5:1-11). Karena itu, penerapan hurufiah memang terjadi di kalangan gereja mula-mula. Walaupun tidak semua gereja melaksanakannya, seperti gereja Korintus yang terkenal dengan kelimpahannya.

      Kemiskinan merupakan kenyataan hidup dalam sejarah manusia, dan Yesus menyatakan bahwa orang miskin akan selalu ada (Mat. 26:11). Keadaan ekonomi orang Yahudi di Palestina pada umumnya berada dalam kemiskinan karena penjajahan Romawi, demikian pula dengan keadaan ekonomi orang Kristen yang berkekurangan karena tekanan penganiayaan selama hampir 300 tahunan. Karena itu, secara kontekstual, ajaran kotbah di bukit ini sangat mengena bagi kehidupan umat-Nya. Kemiskinan yang mereka alami bukan menjadi alasan untuk mewarisi kerajaan sorga, melainkan iman dan kepercayaan orang Kristen yang menjadi bagian dalam pewarisan kerajaan sorga, sekalipun mereka menghadapi kemiskinan dalam kehidupannya. Melalui pemahaman ini, maka orang Kristen yang memiliki kekayaan mau berbagi dengan mereka yang miskin untuk menjadi saluran berkat dan perwujudan pemeliharaan Tuhan atas umat-Nya. Sebaliknya, orang Kristen yang miskin tidak menjadi minder, rendah diri, maupun tidak menjadi pengemis yang takabur untuk menuntut pemberian, sebab iman Kristenlah yang membawa mereka mewarisi kerajaan sorga.

      Konteks ayat ini bisa dipahami sebagai kemiskinan rohani dan materi. Secara materi, kekayaan orang percaya merupakan titipan dan kepercayaan Tuhan. Orang Kristen hanya berperan sebagai pengelola untuk menyalurkan berkat Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkan dan kepada pelayanan pekerjaan Tuhan. Sebab alam semesta ini dengan segala kekayaannya adalah milik Tuhan. Karena itu orang Kristen yang kaya jangan menjadi miskin dalam hal kerelaan memberi. Sebaliknya orang Kristen yang miskin jangan menjadi miskin dalam hal keberanian memberi.

      Secara rohani, semua manusia sudah berdosa di hadapan Tuhan. Begitu pula dengan orang Kristen, sekalipun kita telah ditebus di dalam Yesus Kristus. Karena itu, Tuhan mau mengingatkan kepada kita untuk merendahkan diri di hadapan-Nya. Kita tidak pernah dapat memenuhi kriteria kerohanian yang sejati tanpa anugerah-Nya. Kita harus selalu menyadari kemiskinan rohani, baik dalam hal kerohanian maupun harta milik yang dipercayakan-Nya.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami