"Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu." (Efesus 1:22-23)
Selama kita menjadi orang Kristen, pernahkah kita memikirkan, arti sebuah "gereja"? Dan apa hubungan "gereja" dengan diri kita secara pribadi? Mungkinkah kita telah menjadi orang Kristen yang setia, namun tanpa mengerti esensi atau jati diri kita sebagai jemaat, yang adalah "tubuh-Nya"?
Acapkali orang Kristen memahami "gereja" sebatas urusan organisatoris dan keanggotaan jemaat; sehingga aktivitas rohani yang dijalankannya hanyalah sebatas legalitas keagamaan dan seremonial belaka, tanpa memahami dirinya sebagai anggota tubuh Kristus. Akibatnya, mereka beribadah bersama, tetapi tidak memiliki ikatan kasih dan persaudaraan; mereka melayani bersama, tetapi tanpa perasaan dan pikiran untuk bersatu bagi Kristus. Hilangnya makna dan relasi yang benar antara "Aku dan Gereja (jemaat)," atau "Aku dan sesama rekan pelayanan," dan seterusnya, menunjukkan kealpaan kita dalam memahami "Kristus sebagai Kepala gereja dan gereja sebagai tubuh-Nya."
Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Paulus menjelaskan sedemikian tinggi nilai suatu jemaat, yang disebut "tubuh Kristus." (1) Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:3-4). (2) Mereka disebut anak-anak Allah (Ef. 1:5); dan (3) Mereka adalah penerima janji Allah yang akan datang (Ef. 1:11-14). Status ini sungguh luar biasa. Namun, apa yang diharapkan Tuhan dari "status kita" ini?
Pertama, mengenal Dia (Yesus Kristus) dengan benar (ay. 17). Paulus menuliskan 2 hal, yaitu: (a) mengenal betapa kaya kemuliaan yang akan diberikan-Nya kepada orang-orang kudusnya (ay. 18); (b) mengenal betapa kuasa Kristus, baik terhadap maut, maupun penguasa-penguasa dunia (baik sekarang maupun yang akan datang; ay. 19-21). Ini membuktikan otoritas Kristus atas segala sesuatu, sekaligus kekayaan kasih-Nya kepada jemaat. Karena itu, tidak ada metafora yang tepat untuk mengungkapkan kuasa dan kasih-Nya ini, selain menyatakan Kristus adalah "Kepala" (ay. 10) dan jemaat adalah "tubuh-Nya" (ay. 22-23).
Implikasi Kristus sebagai Kepala dan jemaat adalah tubuh-Nya, bukan saja mendorong jemaat untuk tunduk dan mengasihi Kristus, melainkan juga wajib saling mengasihi antar anggota tubuh Kristus; seperti Kristus mengasihi jemaat. Hal ini dibuktikan dengan sikap Paulus yang bersukacita dalam doanya kala mendengar jemaat Efesus saling mengasihi satu dengan yang lainnya (ay. 15-16); bahkan ia mempertegas kembali sikap ini: "hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni [sebagai anggota tubuh Kristus], sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Ef. 4:32). Karena itu, selain mengenal Kristus dengan benar, maka sikap kedua, yang Tuhan kehendaki dari kita adalah "saling mengasihi" atau mengasihi jemaat Tuhan (tubuh Kristus), sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.
Jadi, relasi "Aku dan Gereja" bukanlah sekadar urusan oraganisasi atau gedungnya, melainkan persekutuan jemaat/anak-anak Tuhan, yang adalah tubuh-Nya: sehingga kita, yang adalah anggota tubuh-Nya, wajib mengenal dan bertumbuh di dalam Dia, serta saling mengasihi, merawat, menjaga dan memelihara keutuhan tubuh Kristus. Karena itu, marilah kita sebagai anggota tubuh-Nya berperan aktif dalam menciptakan kesatuan dan pertumbuhan tubuh Tuhan, melalui pelayanan kasih antar sesama dan pengenalan yang benar tentang Kristus. Amin.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index