“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)
Ketika John Davison Rockefeller menjadi orang terkaya di zamannya, orang bertanya kepadanya, “Apa definisimu tentang kata ‘cukup’?” Rockefeller menjawabnya, “Mempunyai sedikit lebih banyak lagi daripada apa yang saya punya sekarang, itulah cukup.” Setiap hari, dia mengatakan kalimat yang sama, “Saya hanya membutuhkan sedikit lebih banyak lagi!” Dengan kata lain, dia tidak pernah merasa cukup.
Hati manusia hanya sebesar “kepalan tangan,” tetapi di dalamnya menyimpan sifat keserakahan/keinginan yang tidak pernah ada habisnya, yang membuat manusia sulit merasa puas. Dari satu sisi, rasa tidak puas ini bisa mendorong manusia untuk terus dan lebih berusaha lagi, untuk bisa mencapai yang lebih baik/maju. Tapi di sisi lainnya, rasa tidak pernah puas ini bisa menjadi pendorong yang liar tidak terkendali, menjadi pupuk bagi sifat serakah, yang menyebabkan orang dijajah oleh ambisi kesuksesan harta dan materi, dan lupa akan tujuan hidup yang lebih besar.
Bagi orang percaya, tujuan hidup kita adalah “menjadi berkat dan memuliakan Allah.” Harta dan materi hanyalah sarana belaka, dan bukan tujuan kita. Kebaikan Tuhan ada kalanya dinyatakan kepada anak-anak-Nya melalui berkat materi yang berlimpah. Bagi orang yang hidup dalam kelimpahan, ujiannya adalah untuk tidak melupakan kebaikan diri Tuhan. Sedangkan untuk yang tidak mengalaminya, ujiannya adalah supaya kita belajar mencukupkan diri.
Paulus dipanggil untuk menjadi Rasul bagi bangsa-bangsa asing. Ini adalah tugas yang besar dan berat, dan Allah tidak mau dia bergantung pada dana/uang, tapi bersandar penuh pada-Nya. Karena itu, hidup dan pelayanannya tidak dipengaruhi oleh masalah kekurangan atau kelebihan dana, karena dia sudah belajar mencukupkan diri dengan anugerah Tuhan. Paulus percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkannya mati kelaparan. Tuhan akan mencukupkan kebutuhannya dan memberinya kekuatan untuk menanggung segala perkara. Mari kita belajar mencukupkan diri dengan anugerah Tuhan, dan tetap percaya pada pemeliharaan-Nya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index