| Minggu, 27 September 2009
Ibadah yang Memuliakan Tuhan
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1)
Manusia diciptakan Allah untuk memuliakan Dia, maka secara khusus manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah sendiri. Salah satu cara manusia memuliakan Allah adalah melalui ibadah. Bagaimanakah ibadah yang memuliakan Tuhan itu?
Pertama, ibadah itu haruslah lahir dari totalitas hidup manusia. Seringkali kita beranggapan bahwa ibadah itu hanya terjadi pada hari Minggu saja dan itupun hanya 2 jam di gereja. Ternyata Alkitab berbicara bahwa ibadah adalah totalitas hidup kita. Yang dimaksud dengan totalitas hidup adalah seluruh dimensi hidup manusia. Bahkan hal-hal yang kita anggap sepelepun sebenarnya bagian dari ibadah kita. Maka tidak heran Paulus berkata bahwa ketika kita makan atau minum pun harus dilakukan untuk kemuliaanTuhan (1Kor. 10:31 ). Tutur kata kita, cara berpikir kita, bisnis kita, keluarga kita, pergaulan kita, hobi-hobi kita, harta kita, pelayanan kita semuanya adalah bagian dari totalitas hidup yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bagaimana kita melakukan semuanya itu menunjukkan siapakah Allah bagi kita.
Kedua, ibadah yang sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Terkadang manusia sebagai penyembah terlalu kreatif menciptakan cara beribadah yang tidakTuhan inginkan. Di Keluaran 20, peristiwa anak lembu emas adalah contoh yang paling jelas. Mereka memvisualisasikan Allah Jehovah dengan patung tuangan. Maksudnya mungkin baik, tapi Tuhan tidak berkenan. Demikian pula gereja pada masa kini harus mawas diri, jangan menciptakan suatu order ibadah yang tidak sesuai dengan firman Tuhan hanya karena supaya banyak orang datang ke gereja. Allah-lah yang telah menetapkan aturan bagaimana la ingin disembah, bukan kita yang menciptakan ibadah itu.
Ketiga, Allah yang jadi fokus dalam ibadah. Kesalahan lain dalam ibadah adalah tidak menjadikan Allah sebagai fokus, melainkan pada pembicara, pemusik, gedung, dsb. Ini bukan berarti tidak boleh mengundang pembicara yang baik dsbnya. tetapi fokus ibadah dalam situasi apapun tidak boleh bergeser yaitu diri Allah sendiri. Allah sebagai fokus dalam ibadah nampak melalui pujian kita, doa kita, khususnya dalam pemberitaan firman Tuhan.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|