| Minggu, 06 September 2009
Ibadah yang Bertemu Tuhan
Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." (Yesaya 6:5)
"Experiencing Worship" tulisan Stephen Newman, buku ini banyak dimiliki oleh pemimpin/pelayan ibadah gereja-gereja masa kini. Salah satu publikasi yang menarik perhatian banyak orang, adalah: "People all over the world have purchased this study and it has been proven to be an excellent tool in teaching worship to worship leaders and worshipers." Inti buku ini menjelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan ibadah, antara lain: Why We Worship? What Is Worship? What Is Praise? Corporate and Personal Worship A True Worshiper.
Ini berarti banyak orang sedang mencari esensi ibadah yang sesungguhnya dan berupaya menjadi penyembah yang benar. Salah satu pembaca berkata, "For years I thought I was a worshiper. After going through the study, I realized that I knew very little of what it meant to be o true worshiper." Barangkali kita juga menghadapi persoalan yang sama, ingin menemukan ibadah yang sejati dan menjadi penyembah yang berkenan di hati Tuhan.
Ibadah bukanlah ibadah jika kita belum bertemu dengan Tuhan, betapa pun semaraknya atau khidmatnya ibadah itu. lbadah Israel dibenci Tuhan. “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar." (Amos 5:21,23). Ibadah tanpa perjumpaan dengan Allah akan kehilangan esensi ibadah itu sendiri. Yesaya sama dengan kita, ia menyembah kepada Allah yang hidup, dan kudus. Pertemuan Yesaya dengan Allah di Bait Suci telah mengubah kehidupannya. Ketika ia mendengar para Serafim berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Seruan Serafim benar-benar telah menyadarkan Yesaya bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang kudus, Allah yang tidak akan berkompromi dengan dosa. Yesaya segera meresponi dan berkata, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang najis bibir." Dampak pertemuan Yesaya dengan Allah telah mengubah sikap ibadahnya kepada Tuhan. la menyadari ketidaklayakannya.Tanda penyembah yang sudah bertemu dengan Tuhan, selain meresponi seruan-Nya juga sadar keberdosaannya.
Ibadah bukanlah ibadah, jika seorang penyembah belum mengalami pengampunan dari Tuhan dan melaksanakan kehendak-Nya. Ibadah Yesaya diperkenan Tuhan, karena ia diyakinkan dari bara mezbah sebagai tanda penyucian dosanya, "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni" (Yes. 6:6). Yesaya juga mendengarTuhan berkata: Siapakah yang akan Kuutus? Maka sahut Yesaya, “Ini aku, utuslah aku!" (Yes. 6:8). Ibadah yang sesungguhnya, bila ada perjumpaan dan komunikasi antara penyembah dan Allah. Demikian juga ibadah kita akan dikatakan ibadah, bila kita berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah lewat berbagai unsur liturgi. Allah bisa berkomunikasi dengan kita lewat doa, nyanyian, firman dan unsur lainnya. Karena itu, benahilah sikap ibadah kita kepada Tuhan, niscaya, kita akan berjumpa dengan-Nya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|