| Minggu, 16 Agustus 2009
Kebutuhan Manusia yang Terbesar
"Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:13-14)
Kalau diperhatikan percakapan perempuan Samaria dengan Yesus di pinggir sumur Yakub, kita akan menemukan bagaimana Yesus membuka wawasan dan merubah paradigma perempuan ini tentang kebutuhan hidup manusia.
1. Hidup bukan sekadar makan dan minum (ayat 10, 13-14)
Mengambil air di sumur adalah kegiatan rutin perempuan di Timur Tengah pada jaman itu. Air menjadi kebutuhan hidup yang sangat mendasar, tanpa air manusia tidak dapat bertahan hidup, namun perlu disadari kebutuhan jasmani ini tidak pernah terpuaskan. Setelah minum kita akan haus lagi, setelah makan kita akan lapar lagi. Kepuasan ini hanya bersifat sementara, kepuasan yang sejati hanya ada dalam Yesus Sang Air Hidup.
2. Hidup bukan sekadar memiliki nama besar (ayat 12)
Sumur Yakub adalah sumur resepan air yang sangat dalam, dibangun Yakub dengan susah payah untuk kebutuhan air bagi keluarga dan ternaknya. Ketika melihat sumur ini mereka langsung ingat Yakub, leluhur yang sangat dibanggakan. Jika Yesus mengatakan sanggup memberikan air hidup padahal sebelumnya jelas-jelas Ia minta minum dari perempuan ini, tentu hal ini agak merendahkan baik bagi perempuan Samaria ataupun Yakub, nenek moyang yang sangat dihormati dan dibanggakan yang telah membuat sumur ini. Status keturunan dan nama besar adalah sementara, yang jauh lebih penting adalah mengenal Dia Juruselamat kita.
3. Tujuan pernikahan bukan sekadar mencari kebahagiaan (ayat 16-18)
Dari topik air Yesus beralih ke masalah keluarga, Ia katakan; "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." Dengan jujur perempuan ini mengakui kalau sekarang tidak punya suami dan dia lebih kaget lagi ternyata Yesus tahu persis latar belakang penikahan dan kegagalannya dalam membangun keluarga. Tujuan utama pernikahan bukan mencari kebahagian, pada dasarnya setiap manusia egois, ingin dibahagiakan. Kalau tujuan pernikahan adalah mencari kebahagiaan maka berapa kalipun kita menikah tidak mungkin akan mendapatkannya. Dalam pernikahan kita saling membangun, saling memperlengkapi dan saling membahagiakan di dalam Kristus.
4. Ibadah yang sesungguhnya (ayat 20-24)
Setelah perempuan Samaria menyadari Yesus adalah nabi, ia coba mengangkat isu krusial selama ini, yaitu pertentangan masalah tempat ibadah. Siapa yang benar, di manakah Allah paling bekerja? Yerusalem, tempat orang Yahudi menyembah Allah? Atau Gerizim, gunung suci orang Samaria? Yesus katakan bukan masalah tempat, Allah adalah Roh, Dia tidak dibatasi oleh tempat. Ibadah yang khusuk, yang memuaskan hati dan jiwa tidak bergantung pada tempat di mana kita menyembah Dia, tapi bergantung pada hati yang taat dan rindu akan Allah dan yang didasari kehidupan yang benar.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|