Minggu, 09 Agustus 2009
Pengorbanan Kristus yang Terbesar

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

      Kasih Allah adalah kasih yang aktif dan berinisiatif, kasih yang suci, kasih yang tanpa syarat, kasih yang tidak berkesudahan dan kasih yang penuh pengorbanan. Kasih Allah ini dinyatakan melalui pengorbanan Anak-Nya Yesus Kristus:

1. Dia meninggalkan sorga yang mulia turun ke dalam dunia yang hina
      Allah hanya memiliki Anak yang Tunggal (only begotten Son), tapi Anak yang satu-satunya itu diutus sebagai misionari ke dalam dunia ini. Bulan ini adalah bulan misi, hati kita sering terharu mendengar banyak hamba-hamba Tuhan yang rela meninggalkan negeri asalnya menjadi misionari antar budaya maupun lintas budaya. Mereka telah mengorbankan segala-galanya untukmenjalankan misi yang mulia ini.Tetapi ingatkah kita bahwa jika Kristus tidak taat kehendak Allah dan menjadi misionari yang pertama, maka kita semua akan tetap tenggelam dalam dosa. Sebelum kita melakukan sesuatu bagi Tuhan, Dia terlebih dahulu menyatakan pengorbanan yang terbesar bagi kita dan yang tidak akan ada bandingannya dari kekal sampai kekal.

      Rencana itu dimulai melalui perjanjian Allah kepada Abraham untuk mendirikan suatu umat yang menjadi berkat bagi semua bangsa di seluruh muka bumi ini untuk dipersatukan sebagai manusia yang mempermuliakan Allah dalam kehidupannya, sekalipun ada risiko penolakan suku bangsa terhadap janji Allah itu. Namun demikian Allah tidak akan pernah membatalkan perjanjian-Nya itu hanya karena adanya risiko penolakan manusia, sebaliknya Allah juga tidak pernah memaksudkan perjanjian-Nya itu hanya diperuntukkan kepada suatu bangsa tertentu seperti Israel secara jasmani, sebab rencana Allah itu sangatlah jelas yang bertujuan memenuhi bumi ini kemuliaan-Nya.

2. Dia yang tidak berdosa, turun ke dalam dunia yang penuh dosa
      Banyak hamba Tuhan menderita karena harus menghadapi berbagai macam tantangan, kesulitan bahkan penderitaan dalam menjalankan misi Tuhan. Tetapi semua itu masih jauh dari penderitaan Tuhan Yesus ketika selama 33 tahun di dunia ini, di mana Dia yang suci tanpa dosa harus tinggal bersama-sama manusia yang penuh dosa. Jika kita sudah terbiasa dalam keadaan bersih kemudian kita harus tinggal di tengah-tengah penderita kusta, maka kita akan merasa sangat menderita. Bagi Yesus kenajisan itu tidak terbatas pada lahiriah manusia, tetapi segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Nya (Ibrani 4:13). Setiap saat yang terpapar di hadapan-Nya adalah kenajisan, kebusukan, percabulan, dan lain sebagainya, dapat kita bayangkan betapa besar pengorbanan dan penderitaan-Nya semasa Dia yang mutlak suci harus tinggal di dalam dunia ini.

3. Dia yang tidak berdosa, mati ganti kita yang berdosa
      Ketika Yesus disalibkan, semua murid-murid-Nya tercerai berai, hanya Yohanes seorang yang berjalan sampai ke bawah salib, dia adalah saksi mata penderitaan Yesus yang begitu dahsyat di atas salib. Selama 6 jam Yohanes menyaksikan darah-Nya setetes demi setetes mengalir, nafas-Nya yang begitu berat selama Dia tergantung di salib. Tujuh perkataan terakhir yang diucapkan Yesus terdengar jelas olehnya, bagaimana Dia berdoa bagi musuh-musuh-Nya, bagaimana Dia menyelamatkan orang yang berdosa besar, bagaimana Dia menyerahkan ibu-Nya, bagaimana Dia terpisah dari Bapa-Nya, bagaimana Dia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa dan setelah putus nafas-Nya, bagaimana seorang prajurit Romawi menusuk lambung-Nya sehingga menyemburkan air dan darah. Semua pengorbanan Yesus yang begitu besar dan mulia disimpulkan dalam kata: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini..."

Dalam bulan misi ini, bagaimanakah respon kita terhadap pengorbanan Kristus yang begitu besar ini?


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami