Minggu, 07 Juni 2009
Keluarga Dalam Krisis

"TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21)

      Ekonomi Amerika tidak kebal terhadap krisis ekonomi global yang membuat banyak perusahaan-perusahaan besar morat-marit. Baru-baru ini, General Motor (GM) yang sudah berkiprah di dunia ekonomi selama 100 tahun akhirnya dinyatakan kolaps atau bangkrut. Ternyata krisis ekonomi global benar-benar tidak memandang bulu, negara maju atau yang masih berkembang, usaha besar atau kecil merasakan dampaknya.

      Krisis keluarga tidak kalah penting untuk dibicarakan, mungkin bukan rahasia umum lagi bahwa kenaikan angka perceraian meningkat tajam, katakanlah di wilayah Jatim, kasus gugatan cerai yang diajukan di pengadilan mencapai angka ribuan dan yang sudah diputuskan pengadilan ada sekitar 50% ke atas dinyatakan cerai resmi. Siapakah korban berikutnya? Faktor kasus perceraian yang di duga mencapai 50% adalah masalah ekonomi. Jika krisis ekonomi ini terus berlanjut, PHK semakin bertambah, bisa jadi perceraian juga meningkat. Bukankah hal ini sangat memprihatinkan?

      Keluarga Ayub juga mengalami krisis, meskipun hidup pada zaman yang berbeda, kondisi yang tidak serupa dan latar belakang yang tidak sama. Suatu fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa masalah keluarga ada di segala tempat dan ada pada zaman apa pun. Bedanya, krisis keluarga yang dialami Ayub bukan karena krisis ekonomi global, melainkan karena ulah Iblis yang jahil ingin menghancurkan rumah tangganya. Hanya perspektif Ayub terhadap krisis dalam keluarga berbeda penanganannya. Krisis yang dialami keluarga Ayub cukup beragam, selain kerugian material, tekanan spiritual, psikis dan mental. Namun Ayub tidak kelihatan goyah. Walaupun hanya sekejap saja, semua ternak; lembu, sapi, kambing, domba hingga bencana menimpa anak-anaknya. Tetapi dalam hal menghadapi krisis sebesar ini, Ayub tidak berbuat dosa sama sekali di hadapan Tuhan. Kenapa demikian?

      Pertama, Ayub tetap memiliki hati yang beribadah, walau kerugian yang diderita begitu besar dan tak beralasan. Mungkin sulit diterima dengan akal sehat. Ayub meresponi masalahnya dengan hati yang beribadah, "lalu Ayub mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah." Sikap yang patut diteladani ketika kita menghadapi krisis keluarga tetap memiliki hati yang beribadah.

      Kedua, Ayub sadar apa yang dia miliki berasal dari Tuhan, katanya, "Dengan telanjang aku keluardari kandungan ibuku.dengan telanjang juga aku akan kembali kedalamnya.Tuhan yang memberijuhan yang mengambil.terpujilahnamaTuhan." (Ay. 1:21). Kedewasaan rohani seseorang sangat berperan dalam keadaan krisis seperti ini. Sebaliknya, ketidakdewasaan rohani seseorang akan memperburuk keadaannya.

      Ketiga, keteguhan iman Ayub dalam menghadapi krisis. Walau lingkungan, kerabatnya, bahkan istrinya sekalipun terus mengumpat dan memaksa Ayub meninggalkan imannya kepada Allah. la tetap pada pendirian imannya. Akhirnya Allah memberkatinya dua kali lipat dengan kualitas yang lebih baik. Saat kita dilanda krisis keluarga yang beragam, marilah kita belajar menghadapi masalah-masalah tersebut dengan sikap yang sama seperti Ayub.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami