| Minggu, 11 Januari 2009
Kuat di Saat Lemat
"Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Korintus 12:10)
Rasul Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang sangat tangguh dan dipakai oleh Tuhan secara luar biasa. la bagai seekor burung rajawali yang naik terbang tinggi melampaui kebanyakan rohaniwan pada waktu itu. Apakah rahasianya? 2 Korintus 12:1-10 mencatat dua pengalaman yang amat bertolak belakang terjadi dalam hidupnya. Pertama, Paulus diangkat ke Firdaus. Kata Firdaus berasal dari bahasa Persia, berarti taman indah bertembok.
Ketika raja Persia akan memberikan penghormatan khusus kepada seseorang yang dicintainya, sang raja akan mengajak orang itu berjalan-jalan dan menikmati segala keindahan taman dalam suasana persahabatan yang akrab. Paulus diangkat ke taman Firdaus, menyaksikan berbagai penglihatan dan wahyu yang menakjubkan dalam persahabatan yang amat akrab dengan Tuhan. la juga mendengar kata-kata yang tidak boleh diucapkan manusia. Pertanyaan: mengapa Tuhan mengizinkan Paulus menyaksikan pemandangan sorgawi tapi ia tidak boleh mengungkapkan apa isi wahyu itu? Pengalaman ini dimaksudkan untuk meneguhkan pelayanan Paulus kepada Tuhan, yang akan mengalami penderitaan-penderitaan yang hebat di masa yang akan datang.
Agar Paulus tidak menyombongkan diri karena penyataan-pernyataan yang luar biasa di atas, maka ia diberi suatu duri di dalam dagingnya, yakni seorang utusan Iblis untuk menggocoh Paulus. Menurut bahasa aslinya, kata duri (skolops) berarti "sebatang kayu tajam." dan kata menggocoh berarti meninju. Kata "menggocoh" menggunakan kata kerja present dan bersifat aktif. Ini berarti penderitaan fisik yang dialami oleh Paulus bukan terjadi sekali-kali, tapi terus menerus. Dengan kata lain, Paulus hidup dengan siksaan fisik sepanjang hari. la harus merasakan dan menahan rasa sakit yang luar biasa, sehingga 3X, ia meminta Tuhan menyingkirkan duri ini.
Namun, jawab Tuhan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Paulus menyadari bukan Iblis, tapi Tuhan yang memegang kontrol atas hidupnya. Jika menurut keinginan Iblis, ia akan lebih suka kalau Paulus bermegah diri. Walau Tuhan permohonan Paulus, tapi Paulus memperoleh jaminan bahwa Tuhan akan menopang Paulus dengan kasih karunia-Nya. Kasih karunia adalah kekuatan ilahi yang bekerja di dalam diri anak-anak Tuhan guna menopang pelayanan dan kesaksian hidupnya ditengah-tengah situasi dan kondisi internal dan eksternal yang kelihatan mustahil. Karena topangan kekuatan ilahi dari Tuhan, Paulus bersaksi: "Aku senang dan rela di dalam kelemahan... karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10). Dengan kata lain: semakin lemah Paulus, semakin kuat kuasa Kristus bekerja melalui dirinya. Puji Tuhan.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|