“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8)

Dalam Perjanjian Lama, Allah digambarkan sebagai Allah yang Maha Agung, Maha Mulia. Allah datang kepada manusia dalam rupa angin, badai, api, dan bisa membinasakan siapapun yang najis dan berdosa di hadapan-Nya. Tidak ada yang sanggup berhadapan langsung dengan Allah.

Namun dalam peristiwa Natal, Allah datang kepada manusia dengan cara yang sangat berbeda. Allah tetap sama, Allah yang Maha Agung, Maha Mulia, namun Allah datang kepada manusia dalam rupa manusia. Allah merendahkan diri-Nya dengan datang ke dunia dalam diri Yesus yang lahir sebagai manusia. Dalam hal apa Allah merendahkan diri-Nya?

1. Dari status yang tertinggi menjadi terendah.
Ay.6 “…Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah” mempunyai pengertian bahwa Yesus adalah Allah, suatu status yang tertinggi, karena Allah adalah pencipta dan penguasa segala sesuatu, Allah yang ditinggikan dan disembah. Tetapi Yesus rela “mengosongkan diri-Nya sendiri” untuk menjadi manusia bahkan menjadi hamba (ay.7), suatu status yang terendah, yang melayani umat manusia agar manusia diselamatkan. Dalam hal ini bukan berarti Yesus kehilangan/melepaskan diri-Nya sendiri dari keilahian-Nya, tapi dengan penuh kerelaan menyembunyikan atau membatasi penggunaan bebas sifat keilahian-Nya dan bahkan mengambil/menambahkan hakekat manusia pada diri-Nya.

2. Dari kelahiran sampai kematian-Nya.
Yesus yang adalah Allah, tapi datang ke dunia melalui wanita yang tidak terkenal, ayah yang sederhana. Lahir di tempat yang sangat tidak layak, yang menyambut hanyalah gembala. Lahir sebagai bayi kecil yang terbatas, yang membutuhkan perolongan dari orang tuanya, hidup dengan sangat sederhana. Bahkan cara kematian-Nya pun dengan mati di kayu salib adalah kematian yang paling hina, karena salib adalah hukuman bagi penjahat yang paling jahat dan akan mengalami kematian secara perlahan-lahan. Allah yang Maha Mulia rela mengorbankan diri-Nya, merendahkan diri-Nya, melakukan semuanya itu karena kasih-Nya kepada manusia, agar manusia diselamatkan. Yesus telah memberikan teladan yang sangat mulia, teladan kerendahan hati, ketidakegoisan dan kerelaan untuk berkorban.

Mengapa Paulus meminta jemaat Filipi untuk meneladani Yesus? Rupanya di jemaat Filipi sedang terjadi permasalahan di antara anggota jemaat. Ada keegoisan, ada yang mencari pujian yang sia-sia, tidak sehati sepikir. Bila hal ini terus terjadi, maka sangat rawan terjadinya perpecahan di dalam tubuh Kristus. Bagaimana dengan kehidupan kita? Egois, ingin dipuji, ingin dituruti adalah bagian dari sifat manusia berdosa. Mari dalam menyambut Natal ini kita mau belajar rendah hati, rela berkorban seperti Yesus, Sang Allah yang menjadi manusia. Dengan demikian kehidupan kita bersama dengan orang lain akan semakin indah dan menjadi berkat. *

Share Button