Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yohanes 2:19)

Injil Yohanes pasal dua dimulai dengan peristiwa Yesus melakukan mujizat mengubah air menjadi anggur. Lalu tersiarlah kabar tentang Yesus yang menarik perhatian banyak orang dan tidak sedikit yang mau mengikuti-Nya. Tetapi Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, sebab Tuhan Yesus tahu motivasi mereka mengikut Yesus (Yoh. 2:24). Berikut ini kita dapat mempelajari beberapa hal tentang Yesus ketika merayakan Paskah di Yerusalem.

Yesus merevitalisasi makna Paskah. Di ayat 13 mengatakan; “Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem” (ay.13). Pada waktu Yesus masih berumur dua belas tahun, Ia juga pernah merayakan Paskah bersama Yusuf dan Maria di Yerusalem (Luk. 2:41-42). Sudah menjadi kebiasaan dan tradisi bagi orang-orang Yahudi datang ke Yerusalem merayakan Paskah setiap tahun . Paskah, bagi mereka merupakan perayaan religiusitas yang bergengsi, atau pesta rohani dengan macam-macam ritual dapat diekspresikan pada momentum Paskah. Tuhan Yesus datang untuk mengembalikan makna Paskah. Arti Paskah “Pesakh” (Ibr.) atau “Pascha” (Yun.) adalah perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, disertai upacara “roti tidak beragi” dan “persembahan anak sulung” dengan “upacara korban domba paskah” sebagai tindakan karya penyelamatan Allah kepada umat-Nya ( Kel 12:14-21; Ul. 16:16). Namun sangat disayangkan, tidak semua orang yang merayakan Paskah dengan motivasi yang benar. (i) Ada sebagian sekadar mengikuti perayaan Paskah, atau melancong ke Yerusalem untuk melihat keramaian orang-orang yang berdatangan dari segala penjuru daerah. (ii) Sebagian lagi menggunakan kesempatan untuk berdagang bukan untuk memperingati makna Paskah yang sesungguhnya (ay.14). (iii) Sebagian lagi memang datang untuk merayakan Paskah yang setahun sekali itu.

Yerus mereformasi kegiatan Bait Suci. Perayaan Paskah juga disertai persembahan kurban berupa hewan dan hasil bumi. Adalah sulit bagi mereka yang dari daerah jauh membawa hewan, jika dibawa mungkin kualitas hewan berkurang karena perjalanan berhari-hari. Karena itu ada tempat perdagangan dan penukaran disediakan di pelataran orang asing (ay.16). Tapi mereka menyalahi dan mengganggu kenyaman perayaan Paskah bukan pada tempatnya, melainkan di pelataran Bait Allah sehingga penuh sesak bukan karena orang-orang kusyuk dengan rohaninya oleh cinta kepada rumah Tuhan, tetapi cinta akan uang. Sehingga Yesus marah dan membalikkan meja lalu mengusir mereka. Tindakan Yesus mereformasi keadaan Bait Allah harus dimaknai dengan positif, dan menjadi perenungan kita. Bila kita mencitai rumah Allah, kita juga menjaga kesakralan rumah Tuhan dari segala yang noda, keramaian seperti pasar, ngobrol, sibuk main gadget atau mengganggu orang lain.

Yesus menstranformasi Bait Allah dalam tiga hari saja. Ungkapan Yesus: “Rombak Bait Allah, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (ay.19). Hal ini membuat orang Yahudi marah, karena 46th lamanya orang mendirikan Bait Allah. Lagi pula Bait Allah simbol kebanggaan agama dan ikon orang Yahudi di Yerusalem selama ini. Jika Bait Allah ini dirombak jadi masalah besar. Tetapi Yesus dalam tiga hari saja, Ia dapat membangun kembali Bait Allah, maksud Tuhan Yesus adalah nubuatan tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus tidak bicara Bait Allah yang didirikan dengan batu-batu, Yesus bicara pembaharuan ibadah sejati melalui diri-Nya. Dalam bagian ini Yesus mengajarkan bahwa tubuh-Nya adalah bait Allah. Kebangkitan-Nya membuka ibadah yang baru, yang memperbarui ibadah yang lama di bait Allah Yerusalem. Kebenaran tentang Yesus sebagai bait Allah merupakan pembaruan ibadah konsep lama menjadi baru di dalam Kristus Yesus. Relevansinya adalah mereka perlu mempercayai Yesus sebagai bait Allah yang baru dan sejati. Demikian juga ibadah kita perlu dikaji ulang, apakah ibadah kita selama ini hanya sebatas fisik? Kiranya terjadi pembaharuan ibadah pada setiap kita. *

Share Button