Bacaan hari ini: 2 Samuel 17:1-29
“Ketika Daud tiba di Mahanaim, maka Sobi bin Nahas, dari Raba, kota bani Amon, dan Makhir bin Amiel, dari Lodebar, dan Barzilai, orang Gilead, dari Rogelim, membawa tempat tidur, pasu, periuk belanga, juga gandum, jelai, tepung….” (2 Samuel 17:27-28)

Peribahasa Inggris yang berbunyi, “A friend in need is a friend indeed”, artinya, “Seorang sahabat sejati adalah sahabat setia pada waktu dibutuhkan.” Dalam bagian ini, Daud mengalami pertolongan tidak terduga dari orang-orang yang sebelumnya tidak begitu terkenal, bahkan tidak pernah disebutkan sebelumnya.

Yang pertama, pertolongan berupa pemberian tempat tidur, pasu, periuk belanga, juga gandum, jelai, tepung, kacang, kambing domba, dll. Ini kelihatannya hanya kebutuhan hidup sehari-hari, dan apakah pemberian itu cukup untuk kebutuhan semua rakyat dan pasukan Daud? Namun, tentu hal ini sangat mengharukan mereka, karena dalam kondisi yang demikian lapar dan melarikan diri terburu-buru itu, ada yang mempedulikan mereka, ada yang memberikan makanan, minuman, peralatan sesuai kebutuhan mereka, walaupun belum tentu semuanya bisa dapat dan merata, namun pertolongan ini seperti sebuah mujizat yang terjadi sesuai harapan doa mereka. Bahwa orang yang benar tidak pernah ditinggalkan, Tuhan pasti turut campur tangan.

Yang kedua, keberanian orang-orang tersebut memberikan pertolongan kepada raja Daud (sedang kalah dan melarikan diri), adalah semangat yang luar biasa. Karena, siapa sih yang berani membantu raja yang kalah? Apa mereka tidak takut nanti dihukum oleh Absalom, apalagi Absalom sudah menunjukkan kejahatan besarnya di hadapan orang Israel di pasal-pasal sebelumnya. Keberanian inilah yang menyulut keberanian rakyat yang melarikan diri untuk terus setia bersama raja Daud, dan juga para panglima tentara Daud untuk terus setia.

Hari ini setiap kita juga berharap: apabila kita di dalam kesulitan, kita bisa mendapatkan pertolongan dari orang lain. Namun pelajaran hari ini menegurkan kita untuk berpikir sebaliknya, yaitu apabila kita menemukan orang lain dalam kesulitan, pertolongan seperti apa yang akan kita berikan kepada orang itu, supaya pertolongan kita sungguh berarti dan kita juga menjadi sahabat sejati baginya.

Belajar dari bagian ini, seharusnya kita dapat menjadi teman yang benar bagi sesama kita. Kita dapat mendamaikan orang-orang yang bertikai seperti yang dilakukan oleh Yonatan. Kita bisa meredam amarah seseorang dan di sisi yang lain, kita bisa memulihkan hubungan yang retak satu dengan yang lain, persis seperti yang dilakukan Yonatan kepada Saul, demi Daud, sahabatnya. Amsal 18:24, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”

STUDI PRIBADI: (1) Pernahkah sungguh-sungguh menolong orang dalam kebutuhannya? (2) Bila tidak ada balasannya, bagaimana respons kita, masihkan kita mau menolongnya?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah: Tuhan jadikan kami sebagai orang-orang yang dapat menjadi sahabat bagi mereka yang ada di dalam kesulitan, menjadi cahaya bagi mereka yang berjalan di dalam kegelapan.

Share Button