Bacaan hari ini: 2 Raja-Raja 15:27-38
“Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2)

Perihal perebutan kekuasaan, seorang filsuf Jerman yang bernama Nietzsche mengatakan bahwa dalam diri seorang manusia terkandung kehendak untuk berkuasa atau the will to power. Kehendak untuk berkuasa itu biasanya mencakup ambisi dan usaha untuk mencapai posisi yang tertinggi dalam kehidupan.

Sementara di bawah tekanan negeri Asyur, para pemimpin Israel justru tetap saling berebut kuasa. Pekah bin Remalya menjadi raja atas kerajaan Utara setelah mengadakan persekongkolan membunuh raja sebelumnya, yaitu Pekahya anak Menahem (ayat 25). Setelah itu, Pekah bin Remalya menjadi raja dan memerintah selama dua puluh tahun lamanya. Namun, pada masa pemerintahan Pekah bin Remalya, raja Asyur yang bernama Tiglat-Pileser merebut seluruh daerah Naftali ditambah tujuh daerah Israel lainnya. Bangsa Asyur mengangkut orang Israel di daerah itu menjadi tawanan. Adapun, akhirnya Pekah bin Remalya dikalahkan dan dibunuh oleh Hosea bin Ela (ayat 29).

Sungguh sangat tragis melihat keadaan umat Tuhan pada waktu itu. Di tengah tekanan dan penderitaan yang mereka alami, para pemimpin justru saling berebut kuasa. Pengejaran akan memuaskan keinginan diri justru lebih besar daripada mencari keinginan Tuhan.

Pelajaran penting yang dapat kita lihat dari cerita ini adalah bagaimana kekuatan dosa yang membutakan mata para pemimpin Israel. Mereka tidak kunjung menyadari bahwa Tuhan sudah mengirim bangsa Asyur untuk menjadi alat murka Tuhan bagi mereka. Bukannya berbalik mencari Tuhan, mereka justru mengejar hawa nafsu kepuasan diri. Hal ini sedikit berbeda dengan Yehuda yang masih bisa bertahan (sekalipun pada akhirnya juga harus mengalami pembuangan) karena ada raja-raja yang masih melakukan apa yang benar di mata Tuhan, seperti Yotam (2 Raja-Raja 15:32-38). Kegagalan para pemimpin Israel kiranya menjadi pelajaran bagi kita untuk mengejar keinginan Tuhan, peka terhadap keinginan Tuhan dan menanggalkan ambisi pribadi demi kepuasan diri.

STUDI PRIBADI: (1) Adakah Anda akan menghalalkan segala cara? (2) Apa yang bisa Anda lakukan agar para pemimpin gereja tidak jatuh ke dalam dosa memuaskan ambisi pribadi?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi pemimpin gereja di tempat Anda bergereja supaya mereka senantiasa mengutamakan kehendak Tuhan daripada memuaskan ambisi pribadinya.

Share Button