Bacaan hari ini: Ayub 1
“Katanya: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:21)

Dalam hidup, kita terbiasa menganggap bahwa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Entah kita mendapatkannya dengan bekerja keras atau tidak, tetap kita meyakini bahwa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Karena milik kita, kita merasa punya hak penuh atasnya. Sehingga ketika apa yang ada pada kita itu diambil tanpa persetujuan kita, kita merasa tidak terima dan marah. Itulah respons manusia umumnya. Dan respons itu juga yang seringkali ditujukan manusia pada Tuhan. Ketika hal-hal dalam kehidupan tidak berjalan sesuai harapan seseorang, ia akan protes dan marah pada Tuhan.

Dalam bacaan hari ini, kita melihat kehidupan seorang pria yang mulanya tampak memiliki hal-hal yang diinginkan sebagian besar orang: keluarga yang utuh dan kekayaan yang melimpah. Namun suatu tragedi terjadi dalam kehidupannya yang selama ini tenang-tenang saja, dan dalam sekejap waktu ia kehilangan semua itu. Umumnya, ketika manusia mengalami hal demikian akan mengalami berbagai gejolak emosi dalam dirinya dan di tengah tekanan berat itu ia akan marah terhadap keadaan dan mempersalahkan Tuhan. Apalagi jika sebelumnya ia merasa telah berusaha hidup saleh di hadapan Tuhan. Jika tidak marah, sangat mungkin orang tersebut akan mempertanyakan Tuhan.

Namun Ayub menunjukkan respons yang sama sekali berbeda. Ayub mengucapkan satu kalimat yang menunjukkan pemahamannya bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Tuhan memiliki hak dan kendali penuh terhadap segala sesuatu. Sehingga di dalam segala kehilangannya, Ayub tetap berbesar hati dan tidak berbuat dosa terhadap Allah.

Kita memahami bahwa Tuhan adalah pemilik segala sesuatu. Yang ada pada kita saat ini hanyalah titipin Tuhan yang dipercayakan kepada kita sebagai penatalayan. Namun apakah pemahaman itu sungguh-sungguh kita hidupi, sehingga ketika menghadapi kehilangan dengan tulus kita bisa seperti Ayub yang berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”

STUDI PRIBADI: (1) Mengapa Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub? (2) Mengapa Ayub mengoyakkan jubah dan mencukur kepalanya?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah dan mintalah kerendahan hati pada Tuhan supaya kita sungguh-sungguh menyadari bahwa segala yang ada pada kita adalah milik Tuhan.

Share Button