“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10)

Perpecahan gereja adalah suatu hal yang banyak terjadi di gereja-gereja Tuhan. Bukan hanya di zaman ini, melainkan sejak abad pertama, di tengah-tengah jemaat Korintus yang didirikan oleh Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 18, Paulus datang ke Korintus untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja selama kurang lebih 1,5 tahun lamanya. Namun setelah Paulus pergi, ia mendengar kabar adanya perpecahan di tengah-tengah jemaat Korintus. Mereka terbagi-bagi di dalam empat kelompok dan saling menjelekkan satu sama lain. Mereka terbagi empat seturut guru favorit mereka: kelompok Apolos, Paulus, Kefas dan Paulus (1:12). Hal ini bisa terjadi karena jemaat Korintus gagal melihat bahwa yang terpenting bukanlah guru dan rasul-rasul, melainkan Allah. Paulus berkata: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (3:6). Yang terpenting bukanlah mereka yang menanam dan menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuh-an (3:7). Paulus, Apolos dan Kefas hanyalah pelayan-pelayan yang dipercayakan rahasia keselamatan Allah untuk diberitakan (4:1). Kristus itu tidak terbagi-bagi (1:13) dan gereja seharusnya harus berjuang untuk seia sekata dan tidak terpecah belah oleh favoritisme kepada pemimpin tertentu (1:10).

Hari ini di dalam gereja pun bukannya tidak mungkin ada kelompok-kelompok pemisah di dalamnya. Secara positif, komunitas kelompok bisa membuat orang-orang di dalamnya memiliki relasi yang baik dan dekat. Namun kita juga perlu mewaspadai ketika masing-masing kelompok mulai eksklusif, merasa kelompoknya lebih baik dan menjelekkan-jelekkan kelompok yang lain. Kita harus menjaga persatuan dari gereja kita. Kita satu tubuh dan kita harus bertumbuh bersama dengan Allah, Sang Pemberi Pertumbuhan. *

Share Button