“Ketika Asa mendengar perkataan nubuat yang diucapkan oleh nabi Azarya bin Oded itu, ia menguatkan hatinya dan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah Yehuda dan Benyamin dan dari kota-kota yang direbutnya di pegunungan Efraim. Ia membaharui mezbah TUHAN yang ada di depan balai Bait Suci TUHAN.” (2 Tawarikh 15:8)

Di segala zaman (era), penyimpangan dari norma-norma yang telah ditetapkan selalu terjadi, entah itu penyimpangan dari norma religi, hukum negara, dan sebagainya. Faktor-faktor penyebab penyimpangan tentu saja beragam. Namun penyimpangan akan membawa kerugian.

Demikian pula dengan kehidupan umat Tuhan (bangsa Israel). Penyimpangan (ketidaktaatan dan ketidaksetiaan) mereka kepada Tuhan seringkali membawa kerugian besar bagi mereka; kekalahan terhadap musuh, dimurkai atau ditinggalkan Tuhan, sampai kehilangan damai sejahtera. Maka pembaharuan harus dilakukan; reformasi harus dijalankan sesuai firmanTuhan.

Asa adalah raja Yehuda yang cukup baik di hadapan Tuhan. Namun ketika pesan Tuhan melalui nabi Azarya bin Oded disampaikan kepadanya, ia tidak tinggi hati, tetapi merendahkan diri dan melakukan pembaharuan mezbah dan menyingkirkan segala berhala kekejian dari seluruh Yehuda, Benyamin dan kota-kota yang direbutnya di pegunungan Efraim. Kedaulatan Allah ditegakkan atas umat-Nya, firman-Nya menjadi dasar bagi segala prilaku kehidupan,dan menuntun hidup umat-Nya. Jika Allah menghendaki sebuah reformasi, itu adalah demi kebaikan umat-Nya.

Demikian pula dalam sejarah gereja pra-reformasi, di mana banyak terjadi penyimpangan rohani dan moral, atau doktrin dan praktika kehidupan yang tidak sesuai firman-Nya, maka Tuhan membangkitkan orang-orang yang peka terhadap kebenaran firman-Nya. Mereka adalah para reformator gereja. Ketika gereja tidak lagi setia pada pada Alkitab kanonik sebagai standar kehidupan orang percaya, maka reformator menyerukan sola scriptura, hanya Alkitab yang menjadi tolok ukur kebenaran dan pengatur kehidupan gereja atau umat Tuhan. Ketika gereja ragu akan anugerah dan jaminan keselamatan melalui iman saja, mereka menyerukan Sola Fide, Sola Gratia dan Solus Christus. Keselamatan hanya karena anugerah Allah di dalamYesus yang diterima dengan iman dalam pertolongan Roh Kudus. Ini adalah kabar baik, inilah Injil, sebab keselamatan itu tidak bergantung pada perbuatan baik (jasa) manusia yang tidak sempurna, tetapi karya Kristus. Karena semua itu adalah berasal dari Allah, maka para reformator sepakat, bahwa kemuliaan dan pujian itu bukan untuk manusia, tetapi untuk Allah (Soli Deo Gloria).

Reformasi gereja telah mengembalikan kedaulatan Allah dan firman-Nya menjadi sumber tuntunan dan pengharapan bagi gereja-Nya. Bagaimana dengan kita hari ini dalam menghayati reformasi? Reformasi yang terjadi 500 tahun yang lalu (31 Oktober 1517) bukan untuk kita kenang, tetapi dihidupi dalam kemenangan. Di tengah hidup yang penuh penyimpangan, kita sebagai umat Tuhan harus memberitakan Injil kebenaran, sampai Kristus datang. Kita harus hidup dalam kebenaran, agar menjadi teladan bagi banyak orang. Reformasilah gaya hidup kita yang tidak mencerminkan kebesaran Tuhan dan firman-Nya. Hiduplah dengan rendah hati, karena segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Soli Deo Gloria. *

Share Button