Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:1-2)

Dalam kisah dan drama Natal, kehadiran orang-orang Majus tidaklah terpisahkan. Mereka hadir di setiap kisah Natal, tetapi kehadiran mereka sering kali tidak diperhatikan. Keberadaan mereka hanya terekam di dalam Injil Matius saja. Tahukah kita, ada beberapa hal penting tentang orang-orang Majus ini?

Yang pertama, mereka adalah orang-orang terpelajar. Pada masa itu, orang Majus bisa berarti seorang ahli filsafat, ahli perbintangan dan juga rohaniwan. Alkitab KJV menyebut mereka sebagai “the wise men”. Kedua, mereka menempuh perjalanan yang jauh, dari Timur (Mat. 2:1). Sebuah perjalanan yang tidak mudah dan berisiko tinggi. Semua itu dilakukan karena didorong oleh kerinduan untuk bertemu dengan seorang Raja Agung. Allah menuntun mereka melalui sebuah bintang timur di langit. Itulah satu-satunya tanda yang mereka yakini. Ketiga, mereka membawa dan memberikan persembahan terbaik kepada Kristus, yakni emas, kemenyan dan mur. Persembahan yang biasanya diberikan hanya kepada para raja-raja saja.

Sebenarnya berita apa yang Matius hendak sampaikan melalui kisah perjumpaan Kristus dengan orang-orang Majus ini?

1. Ada berita yang sangat penting: Keselamatan itu untuk semua orang tanpa memandang suku dan bangsa. Pemikiran seperti ini pada masa itu merupakan sebuah terobosan baru. Bagi orang Israel, keselamatan hanya berlaku bagi mereka sendiri saja. Kehadiran orang-orang Majus memberi pesan dan kesan kuat tentang keselamatan yang universal dan itu sejalan dengan pesan Injil Matius (Band. Matius 28:16-20, “Amanat Agung” yang berlaku untuk segala suku bangsa).

2. Kehadiran orang-orang Majus memberi kesan yang sangat kontras dengan raja Herodes dan para imam dan ahli Taurat. Raja Herodes begitu ketakutan karena membayangkan bakal kehilangan takhta yang ia pertahankan mati-matian. Para rohaniwan di Yerusalem juga tidak mau peduli dengan kehadiran Mesias, mereka bahkan terusik dengan kenyamanan yang selama ini digenggam. Tetapi berbeda dengan orang-orang Majus yang memiliki kerinduan untuk datang dan menyembah Raja di atas segala raja.

Lalu bagaimana dengan kita sekarang ini? Adakah peristiwa Natal itu terus membakar hati dan semangat kita untuk melihat kerinduan Kristus supaya banyak orang boleh diselamatkan. Bukankah Kristus datang untuk tujuan menjadi korban penebusan dan menyelamatkan manusia berdosa? Akankah kita berdiam diri saja? Adakah kerinduan untuk berbagi pesan Allah ini kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang dan hal lain yang memisahkan satu dengan lainnya? Selamat mempersiapkan diri dan menyambut kehadiran Sang Raja mulia! *

Share Button