…jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (1 Petrus 4:11)

Saya membaca ulasan di Internet tentang satu sosok atlit dari Inggris bernama Jonathan Edward. Dia adalah pelari lompat jangkit dari Inggris, pemegang rekor dunia pada 3 Olimpiade berturut-turut dan ditahbiskan sebagai “The World Athlete Of The Year” tahun 1995. Prestasinya juga tak lepas dari komitmen dan pengorbanannya dalam berlatih. Ia juga berdisiplin dalam pola makan dan tidur. Ia bersaksi “Komitmen untuk berprestasi bagi saya sama seperti dengan komitmen yang diperlukan dalam mengikut dan melayani Kristus”. Bagi Jonathan Edward, komitmen adalah sesuatu yang sangat serius. Bagaimana dengan kita?

Kita tentu berharap agar pelayanan kita sungguh-sungguh diberkati dan menjadi berkat. Tetapi ada beberapa hal yang patut kita ingat berkaitan dengan “melayani”.

1. Kita adalah pengurus dari kasih karunia Allah (1 Petrus 4:10). Istilah pengurus merujuk kepada seorang hamba yang ditugaskan untuk mengatur sebuah rumah oleh sang tuan. Jadi bukan kita yang memiliki pelayanan, melainkan Allah dan kita dipercaya hanya mengaturnya dengan baik. Kita akan mempertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan, segala yang Ia telah percayakan kepada kita.

2. Kita melayani sesuai kasih karunia (1 Petrus 4:11). Ini berarti, melayani adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, bukan sekadar keinginan kita saja. Kedua, kita selayaknya melayani sesuai dengan kemampuan yang Tuhan anugerahkan (Kasih karunia-Nya) kepada kita. Setiap orang diberikan talenta yang berbeda supaya saling melengkapi di dalam pelayanan.

3. Kita harus melayani dengan rajin (Roma 12:11). Allah menghendaki kita melayani dengan penuh kerajinan dan semangat. Mengapa? Karena memang kita sering kali berhenti melayani karena mengalami kekecewaan saat berhadapan dengan kesulitan, tantangan, masalah yang muncul.

Ketiga hal di atas penting ada di dalam hidup pelayanan kita. Tetapi semuanya baru berjalan dengan baik, kalau ditopang dengan komitmen yang sungguh-sungguh dari setiap pelayan Tuhan. Ada sebuah untaian kalimat yang pernah dikatakan oleh Martin Luther, “Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree” (Meski saya tahu esok dunia akan hancur, saya akan tetap menanam pohon apel saya). Itulah komitmen yang menolong kita dengan anugerah Tuhan mengatasi segala masalah dan kesulitan. Itulah komitmen yang memampukan kita melayani dengan penuh kesungguhan untuk memuliakan Allah. Oleh karena itu: Selamat melayani dengan sepenuh hati! *

Share Button