“Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. (Amsal 3:21-22)

Media Sosial atau yang lebih sering disingkat dengan “medsos” merupakan sarana informasi dan diskusi yang mampu menghubungkan satu orang dengan orang lainnya. Media Sosial adalah media online (daring) yang dimanfaatkan sebagai sarana pergaulan sosial secara online di internet. Di media sosial, para penggunanya dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi, berjejaring (networking), dan lainnya. Media sosial mengunakan teknologi berbasis website atau aplikasi yang dapat mengubah suatu komunikasi ke dalam bentuk dialog interaktif. Menurut penelitian sebuah perusahaan “We Are Social”, orang Indonesia rata-rata menggunakan media sosial selama 3 jam 23 menit dalam sehari.

Dari laporan yang berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan pada tanggal 30 Januari 2018 sebanyak 130 juta penduduk Indonesia dari total penduduk Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, merupakan pengguna aktif media sosial. Ada 4 (empat) media yang menduduki peringkat tertinggi yang paling sering digunakan oleh orang Indonesia, yaitu: WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Line. (Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/riset-ungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia)

Pemaparan hasil riset tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa aktivitas menggunakan media sosial menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana seorang Kristen memperlakukan media sosial dengan tepat sehingga hal ini mendatangkan berkat. Media Sosial menjadi teman karena menjadi sarana penghubung antara satu orang dengan orang lain, namun dapat menjadi lawan ketika media sosial tidak digunakan secara bijaksana.

Salah satu contoh tindakan yang tidak bijaksana adalah ketika seseorang menjadikan media sosial sebagai sarana “curhat” masalah pribadi/keluarga, ataupun untuk menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya (hoax). Hal-hal semacam itu bukan hanya merugikan diri sendiri (mempermalukan diri sendiri), namun juga saat menyebarkan informasi yang salah itu, kita dapat menyesatkan orang lain dan melanggar UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

Kitab Amsal 3:21 menyatakan dua hal yang harus kita miliki dalam menyikapi setiap perubahan yang ada, yaitu:

1. Pertimbangan (wisdom), kata memiliki makna hikmat dari Tuhan yang menjadi dasar pertimbangan dan pengambilan keputusan. Hikmat datangnya dari Tuhan, maka kita perlu untuk terus memiliki relasi yang baik dengan Tuhan melalui perenungan firman-Nya sehingga pertimbangan kita adalah pertimbangan yang didasarkan kepada dasar yang benar, bukan atas dasar untung rugi atau kesenangan pribadi.

2. Bijaksana (discretion), kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan benar. Seseorang bisa mengerti kebenaran namun gagal untuk mengaplikasikannya. Sehingga akhirnya antara pengertian dan tindakan tidak “sinergi.” Maka kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk mampu bertindak benar dan menaklukan keinginan daging di bawah kebenaran Tuhan.

Kedua hal tersebut tidak boleh kita tinggalkan dalam memanfaatkan setiap fasilitas yang semakin canggih dewasa ini. Sehingga pada akhirnya kita akan berjalan dengan aman karena Tuhan lah yang menjadi sandaran kita. *

Share Button