“Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.” (1 Korintus 1:2)

Surat 1 Korintus 1:1-3 merupakan salam Paulus kepada Jemaat. Pada umumnya bentuk surat di masa itu diawali dengan salam, yang berisi keterangan penulis surat, penerima surat dan salam. Meskipun ini bentuk umum, namun Paulus memberikan sebuah identitas yang jelas kepada penerima suratnya, yaitu panggilan mereka di dalam Yesus Kristus, bukan hanya sebagai sebuah sapaan, tetapi keimanan. Inilah keunikan surat Paulus dibandingkan surat pada umumnya.

Bagaimana Paulus menyapa jemaat Tuhan yang menerima suratnya? Paulus menyapa mereka: “Kepada jemaat Allah.” Siapakah jemaat Allah itu? Paulus menjelaskan, bahwa Jemaat Allah itu adalah:
(1) “Mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus;”
(2) “Yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat;
(3) “Yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.”

Salam Paulus ini merupakan sebuah paradigma bagaimana semestinya orang Kristen memandang diri mereka dan saudara seiman, bahkan salam ini memberikan kejelasan bagaimana mereka seharusnya hidup sebagai jemaat Allah, sesuai panggilan mereka. Bagaimana mereka seharusnya memandang diri mereka dan hidup sebagai jemaat Allah?

Pertama, jemaat harus memandang diri mereka sebagai orang-orang (komunitas) yang telah dikuduskan di dalam Yesus Kristus. Mereka tidak lagi hidup di bawah perhambaan dosa, tetapi di bawah kasih karunia Yesus Kristus. Mereka telah ditebus dari hukum dosa dan menjadi umat Allah. Status ini tidak boleh dilupakan, bahkan dianggap sepele. Setiap orang Kristen harus memandang diri mereka berharga karena Kristus. Status ini seharusnya mewarnai hidup keseharian mereka yang membenci dosa! Itulah sebabnya, jangan lagi kita menyukai hidup dalam dosa, sehingga menghinakan kasih karunia Kristus bagi kita.

Kedua, jemaat harus hidup sesuai panggilan mereka, yaitu hidup kudus. Istilah “dipanggil” menjelaskan tentang tujuan (purpose) hidup kita, yakni orang-orang yang telah dikuduskan dalam Kristus. Tujuan hidup kita bukan untuk menyenangkan kedagingan atau manusia lama kita, tetapi menyenangkan Tuhan dengan cara hidup bagi kemuliaan-Nya. Kehidupan semacam ini bukan kehidupan yang dijalani sendirian, tetapi dijalani dalam sebuah komunitas dan jejaring sesama orang beriman. Komunitas yang saling menguatkan dan menghiburkan dalam iman, untuk hidup dalam kekudusan. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan mereka, tentang komunitas orang percaya, yaitu mereka yang diluar kelompok mereka, yang sama-sama dipanggil menjadi milik Kristus. Karena itu, jemaat Allah adalah orang-orang yang sama-sama hidup tujuan Allah, bukan sendirian, tetapi berkelompok. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memenuhi panggilan Tuhan ini?

Ketiga, jemaat harus hidup dengan memper-Tuhan-kan Yesus Kristus dalam hidup mereka. Sebagai sebuah komitas orang percaya tidak berarti luput dari pertentangan atau gesekan; bahkan terjebak dalam tipu daya dunia. Namun sebagai komunitas umat Tuhan yang telah dikuduskan, Paulus mengingatkan mereka, bahwa jemaat Tuhan akan selalu menyerukan nama Tuhan dalam hidup mereka. Apa arti “menyerukan umat Tuhan Yesus?” (1) Memberitakan Dia, (2) Memper-Tuhan-kan Yesus dalam kehidupan setiap anggota jemaat Tuhan. Itu artinya, agenda hidup kita dan setiap persoalan yang terjadi dalam jemaat Tuhan harus dinilai dan dihakimi, bukan berdasarkan pertimbangan pribadi, tetapi perkataan dan ajaran Kristus. Kristus harus menjadi pusat kehidupan, baik dalam pemberitaan Injil maupun kehidupan berjemaat. Sudahkan kita menjadi komunitas atau jemaat Allah yang memper-Tuhan-kan Kristus di dalamnya? Marilah kita menjadi komunitas jemaat Allaj yang berpusat pada Kristus Yesus, sang Kepala Gereja. Amin. *

Share Button