Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayub 2:9)

Coba anda bayangkan keadaan yang sedang dihadapi oleh keluarga Ayub, terkhusus istrinya. Betapa sedihnya hidup yang harus dijalani sebagai seorang ibu dan istri. Seorang penafsir menggambarkan keadaan istri ayub dengan mengatakan: She had lost ten children in one day, and that would be enough to devastate any mother. The family wealth was gone, and she was no longer the leading lady in the land. Her husband, once the greatest man in the East was now sitting at the city garbage dump, suffering from a terrible disease. (Dia telah kehilangan sepuluh anaknya dalam satu hari, dan itu akan cukup untuk menghancurkan hati seorang ibu manapun. Kekayaan keluarga yang seketika lenyap, dan dia bukan lagi menjadi wanita yang tersohor di negeri itu. Suaminya, salah satu orang terhebat di negeri itu sekarang duduk di tempat sampah kota, menderita penyakit yang mengerikan.)

Dari hal diatas, nampaknya perasaan sedih, jengkel dan bahkan marah mungkin menjadi respon yang bisa dapat dianggap wajar dan dimengerti. Mungkin karena itulah ia bahkan memaksa Ayub untuk mengutuki Allah, yang ia anggap bertanggung jawab atas semua tragedi yang menimpa mereka. Tetapi Ayub dengan bijaksana menjawab bahwa ia tidak hanya mau menerima hal yang baik dari Allah, tetapi juga hal yang buruk. Seorang pernah berkata: ‘When life is difficult, it’s easy to give up; but giving up is the worst thing we can do. If you want to be memorable, sometimes you have to be miserable.’ (ketika hidup menjadi sulit, menjadi mudah untuk menyerah; tetapi menyerah merupakan pilihan buruk yang dapat dilakukan. Jika anda ingin diingat, terkadang anda harus mengalami hal yang suram).

Iblis dapat membuat kita untuk berdosa melalui orang-orang yang kita kasihi. Alkitab menyaksikan bahwa: Adam memilih mendengarkan hawa isterinya, dan akhirnya jatuh di dalam dosa (bdk. Kejadian 3:6,12), Abraham juga memilih mendengarkan isterinya dan mengabaikan janji Tuhan untuk keturunan atas dirinya (bdk. Kejadian 16). Mungkin ada isteri-isteri Kristen masa kini yang juga gagal menjadi pendamping bagi suaminya dalam melewati masa-masa sulit. Bahkan mungkin saja ada isteri-isteri Kristen yang dapat membujuk suaminya untuk berdosa di saat-saat masa sulit itu. Namun, dalam bacaan kali ini Ayub menolak untuk mendengarkan isterinya dan bersikeras untuk tidak mengutuki Allah. Sebuah pilihan yang bijak dan tepat!

Ayub melihat tragedi yang dialaminya dengan cara pandang yang benar. Ia tidak mempersalahkan Allah atas apa yang dialaminya, sebab ia tahu bahwa Allah tidak pernah salah. Terkadang mudah bagi kita untuk menyalahkan Allah ketika mengalami sebuah tragedi. Kita mungkin dengan mudah berkata bahwa Allah tidak adil dalam memperlakukan kita. Namun, hari ini kita diingatkan kembali untuk melihat dengan cara pandang yang benar terhadap tragedi atau krisis yang sedang menimpa diri kita ataupun keluarga kita. Jika keluarga anda sedang menghadapi krisis, berdoalah bersama dan panjatkanlah doa seperti yang dinyatakan dalam Mazmur 39:13-14, “Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti nenek moyangku. Alihkanlah pandanganMu daripadaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi.” *

Share Button