“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” (1 Korintus 13:8)

Suatu hari seorang misionaris bernama E. Stanley Jones bertanya kepada Mahatma Gandhi, “Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya keras menolak untuk menjadi pengikut-Nya? Gandhi menjawab, “Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tetapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda. Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini.”

Sebuah ironi yang sangat menyedihkan ketika mendapati orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus tidak hidup menurut ajaran Kristus. Padahal mereka sudah menerima dan mengalami kasih Allah melalui Anak-Nya yang tunggal—Yesus Kristus (Rm. 5:8). Bahkan melalui kasih itu mereka dimampukan memandang sesama dari sudut pandang dan kesabaran Kristus. Namun mereka gagal mendemonstrasikan kasih tersebut bagi sesama.

Hal ini yang terjadi pada jemaat Korintus, jemaat yang kaya akan karunia rohani namun miskin akan kasih. Mereka melupakan kasih Allah yang telah diterima dan tidak melakukan panggilan Kristus bagi tiap orang percaya (Mat. 22:37-39). Oleh karena itu, Paulus dengan tegas menegur mereka (1Kor. 13:1-3). Paulus mengatakan semua karunia rohani yang mereka miliki dan anggap penting tidak berguna bila dilakukan tanpa kasih, semuanya hanya sia-sia dan tidak berarti.

Pada ayat selanjutnya (ay. 4-7), Paulus mengupas karakteristik kasih yang seharusnya dimiliki oleh mereka. Paulus memulai dengan 2 pernyataan positif bahwa kasih itu sabar dan murah hati. Kemudian dilanjutkan dengan 8 pernyataan negatif bahwa kasih tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi bersukacita karena kebenaran. Pemaparannya diakhiri dengan 4 penegasan positif bahwa kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Bagi Paulus, kasih bukan hanya sebuah wacana tapi tindakan nyata yang ditunjukkan bagi sesama. Paulus mengakhiri penjelasannya dengan menekankan bahwa semua akan lenyap namun yang tertinggal hanya kasih (ay. 8-13). Kasih menjadi bagian yang tidak pernah usang dan terus bertahan sebagai karakter dan relasi antara Allah dan umat-Nya.

Permasalahan yang sama mungkin saja terjadi pada gereja masa kini. Kita gagal menghidupi kasih padahal Allah telah melimpahi kita dengan kasih. Oleh karena itu, sebagai orang percaya, mari kita terus mewujudnyatakan kasih karena kita telah dimampukan untuk mengasihi (1Yoh. 4:19). *

Share Button