“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16)

Setiap orang di dalam dunia ini, memerlukan dan mendambakan kasih. Jika kita seorang anak tentu mendambakan kasih dari orang tua dan sebaliknya. Jika kita seorang muda yang lagi berpacaran pasti mengharapkan kasih dari orang yang kita kasihi dan sebaliknya. Demikian juga dengan suami istri dan dalam persahabatan, memerlukan kasih.

Sebagai makhluk sosial, kita semua membutuhkan kasih. Dengan kata lain, kita tidak akan mampu hidup tanpa kasih. Yang jadi permasalahannya, apakah dunia ini dapat memberi apa yang kita dambakan?. Mungkin dengan cepat kita memberi respon dengan mengatakan “tentu”. Tapi bila diamati, kita akan menemukan cinta kasih manusia yang bersifat egois, munafik, pura-pura, sementara. Oleh sebab itu sering terjadi:
– Karena uang, harta warisan, antar saudara saling bermusuhan, membenci.
– Kasih ibu adalah kasih yang besar dan tulus, tapi berapa lamakah kita dapat menikmati kasih ini?
– Dalam berpacaran, hubungan suami – istri, keluarga, yang terjadi adalah ada yang tidak setia.
– Dalam persahabatan: hari ini sahabat, nanti/besok tidak tahu. Dikala senang teman akan datang, namun dikala susah, temanpun pergi.
– Hubungan antar manusia? Membenci, melukai, egois, menang sendiri, memfitnah.

Inilah cinta kasih dunia yang seringkali mengecewakan, melukai, menyedihkan, penuh kepura-puraan, palsu. Di tengah-tengah keadaan yang seperti ini kita bersyukur kalau dapat menikmati kasih yang sejati, agung, mulia yaitu kasih Allah. Mengapa demikian?

1. Kasih Allah adalah kasih yang agung dan sejati.
Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, semua keturunannya mewarisi dosa. Terbukti seorang anak kecil sudah bisa berbohong, apakah orang tua yang mengajarinya? tentu tidak. Sejak dini manusia cenderung berbuat dosa. Upah dosa adalah maut. Manusia akan mati dan dihukum di dalam api yang kekal (neraka). Allah tidak mau melihat manusia ciptaan-Nya binasa, sebab itu Ia memberikan Anak tunggalnya, Yesus Kristus ke dalam dunia untuk mati di atas kayu salib. Dia telah menggantikan manusia untuk menerima hukuman sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya, diampuni dosa-dosanya dan terluput dari hukuman dosa yaitu maut, tetapi memperoleh hidup yang kekal. Walaupun manusia berdosa, Allah mengasihi bahkan sampai rela mengorbankan anak-Nya hanya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman kekal.

2. Allah mengasihi akan dunia ini.
Menyatakan bahwa kasih Allah bukan hanya untuk satu golongan/suku/bangsa/negara saja melainkan untuk semua. Namun Allah memberi kehendak bebas untuk manusia memilih/menolaknya, sehingga hanya yang percaya saja yang bisa merasakan kasih itu.

3. Kasih Allah adalah kasih yang kekal dan tidak berubah.
Kasih-Nya bukan hanya berlaku di dunia ini saja melainkan sampai pada kekekalan. Kasih-Nya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. (Bandingkan dengan kasih manusia yang serba terbatas). Kasih Allah adalah kasih yang kekal, dapat dinikmati untuk selamanya. Dan kasih Allah adalah kasih yang tidak berubah oleh kondisi dan situasi yang berubah-ubah. Mungkin kita sedang merasakan penderitaan karena disakiti, dikecewakan oleh cinta kasih manusia, biarkan kasih Allah yang Agung, sejati, walaupun, kekal dan tidak berubah, akan memenuhi hati dan hidup kita. Dengan kasih Allah ini pula kita mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa mengasihi sesama dengan kasih Allah. *

Share Button