Bacaan hari ini: 1 Tawarikh 21:1-17
“…setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.” (2 Sam. 24:10, ITB)

Kemenangan demi kemenangan semakin memopulerkan reputasi Daud, termasuk kemenangan atas keturunan raksasa dari Gat yang tewas di tangan Daud dan orang-orangnya (1 Tawarikh 20). Semua kemenangan yang ia peroleh menunjukkan kekuatan sekaligus kejayaan yang telah ia raih. Puncaknya, Daud kemudian memberi perintah kepada Yoab. Ketika perintah diberikan, Yoab merespon dengan mempertanyakan (bdk ay.3), namun sayangnya Daud tidak mau mendengarkan sehingga dengan terpaksa Yoab menuruti. Dan ketika Yoab kemudian melaporkan hasil sensus tersebut, hal itu bukannya menjadikan Daud merasa senang dan bersukacita, Daud justru berdebar-debar (band. 2 Sam 24:10).

Mengapa Daud berdebar-debar dan menganggap dirinya bodoh, serta memohon ampun kepada Tuhan? Mengapa Tuhan memandang hal itu jahat, dan kemudian menghajar Israel? Karena Daud jatuh ke dalam dosa kesombongan, ia menjadi jumawa (sombong, red). Tetapi Tuhan sangat mengasihi Daud; melalui Gad, Tuhan menegur Daud. Dalam kisah ini, kejumawaan Daud berakhir dengan kehancuran hati dan pengakuan akan kekuatan, kekuasaan, dan kebesaran Tuhan; karena tidak ada kekuatan lain yang dapat dibandingkan dengan Tuhan semesta alam, termasuk jumlah pasukan yang dimiliki oleh Daud. Bahkan Daud berani mengambil tanggung jawab untuk menanggung hukuman dan mengakui bahwa dosa dan hukuman yang terjadi itu merupakan kesalahannya secara pribadi, bukan dosa umat/ bangsa Israel.

Bagaimana dengan kita? Belajar dari pengalaman Daud, kita juga bisa jatuh pada lobang kejatuhan yang sama. Mungkin tidak banyak pasukan yang kita miliki, akan tetapi uang, deposito, harta, kedudukan, dan juga kepandaian, harga diri, pengakuan, kepercayaan diri yang berlebihan, reputasi dan popularitas, semuanya itu dapat mencondongkan hati kita dalam ketergantungan dan memiliki rasa aman yang semu sehingga tidak lagi bergantung dan mengandalkan Tuhan dalam hidup dan menjadikan kita jumawa. Waspadalah!

STUDI PRIBADI: (1) Apa yang kita miliki yang dapat membuat kita jumawa? (2) Bagaimana Daud menyadari kesombongannya & berbalik pada Tuhan? Apa yang harus kita lakukan?
DOAKAN BERSAMA: Tuhan jadikan kami, umat-Mu yang memiliki kerendahan hati dan selalu bersyukur atas apa yang Engkau karuniakan atas kami, sehingga kami tidak hidup dalam kesombongan, Amin.

Share Button