“Sebab, perkataan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang sedang binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, hal itu adalah kekuatan Allah.” (1 Korintus 1:18)

Sebenarnya tidak ada manusia yang mau percaya kepada kebodohan atau kabar yang dianggap bodoh yang tidak ada gunanya atau tidak masuk di akal. Apalagi memberikan diri, bahkan nyawanya sendiri, untuk mempertahankan kepercayaannya kepada pribadi/berita yang dikabarkan tersebut. Paulus mengatakan bahwa berita tentang salib Kristus (Injil) adalah sebuah kebodohan bagi dunia. Tetapi mengapa masih saja ada orang yang mau percaya dan menerima Injil Kristus? Bahkan sejarah Gereja mencatat sudah banyak martir yang mati demi imannya kepada Kristus. Lebih pribadi lagi, mengapa kita sendiri mau percaya dan mempertahankan kepercayaan kita akan Injil Kristus?

Alasan pertama, Paulus mengatakan bahwa dunia tidak dapat memahami hikmat Allah yang luar biasa besarnya di dalam Injil Kristus. Paulus sendiri pada mulanya juga tidak dapat memahami akan Injil, sehingga dia termasuk yang paling keras menolak kekristenan. Bagi orang Yahudi, Injil adalah batu sandungan karena bagaimana mungkin meletakkan iman kepada pribadi yang digantung dan mati dikutuk. Bagi orang Yunani, Injil adalah sebuah kebodohan karena bagaimana mungkin percaya kepada pribadi yang mati seperti penjahat (disalib). Tetapi bagi kita yang percaya, Injil adalah kabar baik bagi manusia berdosa bahwa Kristus mati di atas kayu salib untuk menanggung murka Allah atas dosa yang seharusnya ditanggungkan kepada manusia berdosa. Paulus sendiri juga berkata dalam 2 Korintus 5:21, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Inilah yang disebut bahwa Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah bagi mereka yang percaya. Kalau kita bisa percaya maka itu semata karena karya Allah dalam hidup kita yang membuat kita sadar akan dosa kita dan mau menerima akan karya penebusan Kristus. Kalau kita sampai sekarang tetap hidup sebagai pengikut Kristus maka di sana kita melihat kekuatan Allah yang menjaga dan memimpin orang-orang percaya untuk bertekun mengikut Kristus.

Alasan kedua, dengan Injil yang adalah hikmat Allah, maka sebenarnya kita tidak ada kesempatan untuk memegahkan diri kita di hadapan Allah. Keselamatan yang kita dapatkan adalah karena Kristus, iman di dalam Kristus yang kita miliki karena anugerah Allah, bahkan kita patut bersyukur karena iman kita didasarkan pada Injil yang adalah kekuatan Allah dan bukan kekuatan manusia. Celakalah kalau iman percaya kita hanya didasarkan pada ajaran-ajaran manusia semata yang lemah dan terbatas ini. Termasuk Paulus sendiri, dan juga semua pemberita Injil, tidak dapat memegahkan dirinya ketika ada banyak orang boleh dibawa percaya kepada Kristus melalui pelayanannya. Karena ada karya Allah yang menyertai maka mereka yang mendengarkan berita Injil dimampukan untuk percaya.

Oleh karena itu hendaklah kita tetap hidup di dalam Kristus karena menyadari bahwa iman kita kepada Kristus bukanlah karena kemampuan akal pikiran kita untuk mempercayai berita Injil, tetapi karena ada anugerah Allah di dalam hidup kita. Termasuk ketika sekarang kita boleh menjadi saksi Kristus, hendaknya kita tidak malu karena Injil adalah kekuatan dan hikmat Allah. Ketika Allah berkarya dan memenangkan mereka yang dulunya begitu menolak Injil maka di sana nampaklah Allah memakai “kita yang bodoh” untuk menunjukkan hikmat-Nya kepada dunia ini. *

Share Button