“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24)

Ibadah adalah waktu di mana kita seperti seorang anak yang datang kepada bapaknya untuk menikmati waktu bersama-sama. Dalam waktu pertemuan itu, kita dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama bapak kita, ataupun kita menikmati waktu berbicara kepada bapak kita. Dalam pertemuan itu kita bebas mengungkapkan segala harapan, sukacita, kesulitan dan bahkan penderitaan yang kita sedang hadapi. Tujuan utamanya adalah untuk semakin dekat dengan bapak kita, bukan yang lainnya.

Oleh karena itu kita dapat mengerti bahwa Ibadah pada hakekatnya adalah mencari wajah Tuhan dan menikmati keberadaan-Nya dalam setiap ibadah kita. Ini harus menjadi dasar motivasi kita setiap kali kita datang ke Gereja, untuk memuji dan menyembah Tuhan. Jika kita datang beribadah dengan tujuan supaya kita dipandang sesama sebagai orang yang religius, kita telah keliru dalam menjalani ibadah kita. Jika kita datang beribadah dengan tujuan supaya Tuhan memberkati kita, maka kita juga telah keliru dalam motivasi beribadah. Jika kita menantikan berkat Tuhan dalam ibadah, itu artinya kita menganggap Tuhan bukan lagi seperti seorang bapak, tetapi Santa Claus, yang kehadirannya kita tunggu-tunggu, karena dia membawa hadiah-hadiah yang kita inginkan.

Jadi bagaimana kita tahu, jika ibadah kita berpusat pada mencari wajah Allah? Apa yang bisa kita lakukan untuk mengetahui bahwa motivasi kita benar dalam memuji dan menyembah Tuhan adalah untuk berelasi dengan Tuhan?
Pertama, datang kepada Tuhan dengan dengan hati yang terbuka. Biarkan Tuhan melihat segala sesuatu yang ada dalam diri kita, baik atau buruk, dosa dan kesalehan kita. Biarkan Tuhan mengetahui bahwa kita terbuka dan ingin mengenal dan dikenal oleh Tuhan. Daud dalam Mazmur 139:23-24 memberi kita sebuah teladan keterbukaan di hadapan Allah: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” Daud terbuka di hadapan Tuhan bahkan dia rela untuk dikoreksi dan dituntun Tuhan jika memang dia telah berbuat yang serong dihadapan Tuhan. Sikap yang demikian perlu kita miliki dalam setiap ibadah-ibadah kita.

Kedua, dalam setiap ibadah, mari kita tidak ragu untuk bersorak-sorai dan bersukacita. Ini artinya dalam ibadah kita tidak boleh ragu untuk membuka suara, menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Jika perlu bertepuk tangan, kita bertepuk tangan. Satu hal yang kita perlu perhatikan bahwa ini bukan berarti kita bebas sebebas-bebasnya dalam ibadah seperti melompat lompat jungkir balik, berteriak-berteriak, dan berbagai ekspresi ibadah yang dapat mengganggu orang lain. Ekspresi ibadah kita dapat kita tunjukkan dengan sungguh-sungguh menyanyikan setiap lagu, menaruh tangan di dada kita, mengangkat tangan pada waktu kita menyembah Tuhan. Ibadah adalah waktu kita untuk mengagungkan Tuhan, menyembah kebesaran-Nya dan memuji segala kebaikan yang telah dia lakukan dalam hidup kita. Mazmur 100:1-2,4 mengatakan: “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya.” *

Share Button