“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (Mazmur 119:10-11)

Mazmur 119 tergolong ke dalalam mazmur puji-pujian. Mazmur puji-pujian adalah mazmur yang umum yang ditemui di dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Kitab Syair. Mazmur puji-pujian biasanya dinyanyikan di dalam ibadah-ibadah yang dilakukan oleh umat Israel di Bait Allah. Mazmur 119 mendeskripsikan kehidupan umat Allah yang didasarkan pada Taurat TUHAN. Dalam Mazmur 119 Taurat TUHAN itu menjadi prioritas di dalam kehidupan umat Allah sebagaimana dituliskan oleh Charles Simeon: “Because the Bible is God’s authoritative, reliable, and powerful Word, we should make it top priority in our lives.” Gambaran kehidupan umat Allah sebagaimana yang dicatat oleh Mazmur 119 adalah umat Allah yang kudus oleh karena “percaya dan taat” kepada Taurat TUHAN. “Percaya dan taat” inilah yang menjadi dasar kehidupan umat Tuhan yang beribadah kepada-Nya.

Mazmur 119:9 memulai dengan sebuah retorika, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” Ibadah kita kepada Allah – bukan semata-mata ritual belaka, meski hal itu perlu. Tetapi ibadah yang benar yang kita jalani adalah ibadah yang mengubah hidup. Ibadah yang mengubah hidup itu didasarkan kepada iman dan ketaatan kepada Firman TUHAN. A.W. Tozer pernah menuliskan kalimat demikian: God’s Words are not for me to edit and tinker with, but to believe and obey (= Firman Allah bagiku bukan untuk disunting dan diutak-atik, tetapi supaya kita percaya dan taat).

Bagian selanjutnya dalam Mazmur 119:10-16 mengungkapkan kerinduan pemazmur untuk “menghidupi” Taurat TUHAN. Bukan hanya “memahami”, “menyimpan”, “ajarkan”, “menceritakan”, “merenungkan,” tetapi juga “bergemar” (= bersukacita untuk melakukan) melakukan Taurat TUHAN. Inilah yang seharusnya terekspresi di dalam kehidupan kita hari lepas hari. Jadi ibadah itu bukan hanya sekedar ritual mingguan, tetapi ibadah itu adalah “kehidupan itu sendiri.” Seseorang pernah menuliskan: Worship is so much more than the songs that we sing on Sunday morning. It is the life that we live the rest of the week (= Ibadah lebih dari sekedar puji-pujian yang kami nyanyikan pada minggu pagi. Itu adalah kehidupan yang kami jalani sepanjang minggu itu)

Jadi bagaimanakah dengan kita? Setiap minggu kita beribadah kepada TUHAN, adakah ibadah itu telah mengubah hidup kita? Adakah ibadah yang kita jalani setiap minggu membuat hidup kita semakin mengasihi dan menghormati Allah ataukah tidak. Ravi Zakharias menuliskan: Worship ia a posture of life that takes as it’s primary purpose the understanding of what it really means to love and revere God. Amin.

Share Button