“…bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,..” (Yesaya 29:13)

Sebagai umat TUHAN, kita tentu ingin menjalankan sebuah ibadah yang memuliakan TUHAN; sebab ibadah yang demikian, itulah yang dikehendaki TUHAN. Namun, apa yang kita pikirkan tentang arti “Memuliakan TUHAN”? Marilah kita merenungkan topik ini dari kegagalan bangsa Yehuda dalam memuliakan TUHAN.

Melalui Yesaya, TUHAN berfirman tentang Yehuda: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi” (Yes. 29:13-14).

Mengapa TUHAN tidak berkenan terhadap ibadah yang dikerjakan oleh bangsa Yehuda? Apakah performance-nya kurang? Apakah kurang meriah? Atau kurang tenang musiknya? Atau Alur ibadahnya tidak menarik? Tidak! Bukan itu persoalannya!

TUHAN berkata: “Mereka memuliakan Aku dengan mulutnya, tetapi hatinya menjauh dari pada-Ku.” Kita tahu, istilah “menjauh” {ibrani: rachaq} berarti “membuang releasi.” Ini menunjukkan bahwa hati bangsa Yehuda tidak berpaut atau mengasihi TUHAN; ibadah mereka hanya sebuah formalitas tanpa makna. Dari apa yang TUHAN katakan tersebut, kita dapat belajar tentang ibadah seperti apakah yang memuliakan Dia.

1. Ibadah yang memuliakan TUHAN itu bukan persoalan performance kita, sekalipun perform itu baik; bahkan kita tahu, bahwa bermain musik dengan skill yang baik untuk sebuah ibadah itu penting dan harus ada; termasuk liturgos yang mumpuni, atau sebagai jemaat kita datang dengan tenang dan mengikuti seluruh susunan liturgi ibadah dengan baik; tetapi jika kita melakukannya tanpa hati yang mengasihi TUHAN, tanpa relasi dengan-Nya atau menikmati Dia; bahkan kita hanya sekedar bernyayi atau perform belaka, maka ibadah kita tidak memuliakan Dia. John Piper mengatakan: “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” Allah sangat dimuliakan dalam kita, ketika kita sangat menikmati relasi kita dengan-Nya. Apapun yang kita lakukan dalam ibadah, jika itu mengalir dari hati kita yang mengasihi Dia dan menikmati relasi kita dengan-Nya, ibadah itu akan memuliakan Dia; sebab kasih kita kepada-Nya akan mendorong kita memberikan yang terbaik bagi Dia (inside-out). Itulah yang TUHAN kehendaki dari umat-Nya.

2. Ibadah yang memuliakan TUHAN itu tidak lahir dalam formalisasi waktu ibadah (Misal, Pondok Daun, Paskah, Sabat,dsbnya); tetapi dari relasi hariannya dengan TUHAN. Bangsa Yehuda bisa saja nampak ibadah dan memuliakan TUHAN dengan bibirnya; tetapi TUHAN berkata: “Hatinya menjauh dari pada-Ku.” Mengapa ini bisa terjadi? Apakah ini terjadi pada waktu saat ibadah saja? Tidak! Perkataan TUHAN itu menunjukkan bahwa relasi harian mereka dengan TUHAN telah hilang, sehingga hati mereka tidak berpaut kepada TUHAN pada saat memuji TUHAN dengan bibirnya. Dengan kata lain, kita tidak akan bisa membangun atau melakukan ibadah yang memuliakan TUHAN, jika hidup harian (daily worship) kita tidak memuliakan TUHAN, atau hati kita tidak berpaut kepada TUHAN. Sesungguhnya ibadah Mingguan kita merupakan cerminan dari ibadah harian kita (bdk. Rm. 12:1-2) kepada TUHAN. Jika hati kita tidak berpaut dan mengasihi TUHAN setiap hari dengan melakukan kehendak-Nya, mustahil kita melakukan ibadah yg memuliakan Dia dalam bait-Nya (bdk. Yes. 1:10-20). Karena itu, marilah kita rendah hati datang & mohon kemurahan TUHAN; agar kita diperkenan-Nya dan memuliakan Dia. Amin. *

Share Button