“Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mazmur 145:2)

Sejak kapan kita memuji dan mengagungkan Tuhan? Saat menerima berkat Tuhan secara materi. Sejak sehabis pulang retreat atau camp. Tetapi dengan berjalannya waktu atau tekanan pekerjaan, hati yang menggebu-gebu itu mulai kendor, akhirnya kembali seperti semula, tidak lagi menunjukkan betapa kuatnya, kokohnya, dan seringnya kita memuji dan memuliakan nama Tuhan serta berkomitmen bagi-NYA.

Mazmur 145 adalah mazmur Pujian untuk Kemuliaan dan Kebesaran nama Tuhan. Hati Daud, penuh kelimpahan untuk memuji akan kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan Setiap hari, Daud berkomitmen untuk memuji Tuhan Selamanya. Apa alasannya?

1. Sebab Daud tahu dan mengenal Allahnya. Daud di dalam pengalaman hidupnya berjalan bersama dengan Allah, Daud percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Daud di tengah-tengah badai kehidupannya yang hampir merenggut jiwanya. Hal ini tercipta karena adanya RELASI yang intim antara Daud dan Allahnya (ayat 3-7). Sehingga keberadaan dan kuasa Tuhan Allah, membuat Daud sadar “siapakah Tuhan yang dia sembah.“ Di tengah badai kehidupannya, ia tidak bisa berhenti mencari Tuhan Allah, sebab Allah ada memberikan kekuatan dan damai sejahtera kepada umat-NYA.

2. Rancangan damai sejahtera Allah membuat hati Daud tenang. Sebab Daud mengingat, mengalami pemeliharaan Tuhan di tengah-tengah badai dalam hidupnya. Daud tidak mengatakan kepada kita kapan atau bagaimana jawaban Tuhan datang, tetapi Daud mengatakan: jawaban Tuhan benar-benar datang. Kesukaran adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup dan kesukaran membawa kita kepada Allah dan saat jawaban itu tiba, kita sadar bahwa kita lebih mengenal Allah daripada sebelumnya, dan hal ini membawa SUKACITA dalam hidup kita, bahkan setiap Generasi juga memuji Tuhan. Sukacita Daud: “ Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita“ (Mazmur 30:12).

Charles Spurgeon berkata, “Allah terlalu baik untuk menjadi kejam, terlalu bijak untuk membuat kekeliruan, ketika kita tidak dapat menemukan tanganNYA, kita dapat mempercayai-NYA.”

Share Button