Bacaan hari ini: Ezra 9
“Sesudah semua yang kami alami oleh sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedangkan Engkau, ya Allah kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih mengaruniakan…” (Ezra 9:13-14)

Sebagai seorang pemimpin Kristen, tentu saja harus seorang Kristen. Apakah artinya? Kristen = pengikut Kritus. Sebagai seorang Kristen, berarti seorang pemimpin harus menjadi pengikut Kristus. Pengikut Kristus berarti seseorang yang mengerti isi hati Kristus. Ia adalah seorang yang rajin menyelidiki dan merenungkan firman Tuhan, untuk menemukan apa yang Kristus inginkan. Ia juga akan selalu datang berdoa (menghadap) Tuhannya. Salah seorang pemimpin Kristen yang dapat kita teladani adalah Ezra. Ezra adalah seseorang yang tekun menyelidiki firman Tuhan dan merenungkannya. Bahkan, sebagai pemimpin bangsa Israel pada saat itu, Ezra hancur hati ketika melihat bangsa Israel jatuh dalam dosa.

Sepulang dari perbudakan, Ezra melihat bahwa orang-orang Israel menyimpang dari perintah Tuhan. Bangsa Israel, bahkan para imam-imam sekalipun, mengambil perempuan kafir menjadi istri. Perilaku menyimpang ini merupakan kekejian di mata Tuhan (ay. 1-2). Melihat dosa-dosa itu, Ezra berkabung. Ia mengoyakkan pakaian dan jubahnya, mencabut rambut dan janggutnya dan duduk tertegun (ay. 3). Seorang pemimpin yang sejati akan hancur hatinya ketika melihat anak buahnya jatuh dalam dosa. Kehancuran hati merupakan sebuah modal dasar doa yang berkenan di hadapan Tuhan. Memang sering kali kita datang ke hadapan Tuhan, mengakui dosa kita, keluarga kita, anak buah kita, namun apakah kita datang dengan kehancuran hati kepada Tuhan?

Di tengah kehancuran hatinya datang kepada Tuhan, Ezra mengingat akan kasih karunia Tuhan yang tidak meninggalkan bangsa Israel sekalipun mereka berdosa (ay. 8). Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jahat yang akan meninggalkan kita ketika kita berdosa. Tapi Dia adalah Tuhan yang penuh dengan kasih karunia. Walaupun kita berdosa, kasih karunia Tuhan itu selalu bersama dengan kita. Tetapi bukan berarti bahwa kita bisa dengan seenaknya berbuat dosa terus-menerus. Kita juga harus memiliki kesadaran untuk berubah, menjadi pribadi yang tidak mau mengecewakan Tuhan.

STUDI PRIBADI: (1) Apa yang dapat kita teladani dari doa Ezra dalam Ezra 9? (2) Sudahkah kita berdoa seperti Ezra?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah secara pribadi dengan hati yang hancur datang ke hadapan Tuhan membawa setiap dosa-dosa yang kita ataupun orang yang kita pimpin, serta mohonkanlah pengampunan dari Tuhan kita.

Share Button