Bacaan hari ini: 1 Samuel 15:1-35
“Tetapi jawab Samuel kepada Saul: Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel.” (1 Samuel 15:26)

Nasi sudah menjadi bubur, peribahasa ini dengan sangat tepat menggambarkan situasi Saul saat berhadapan dengan Samuel yang memberitahukan murka dan penolakan Allah atas dirinya. Kemenangan dan tugu peringatan sebagai kebanggaan yang dibangun menjadi hancur dan tak berarti dalam sekejap. Ya, dalam sekejap! Pesta kemenangan menjadi ratapan penyesalan berkepanjangan seumur hidup.

Apa yang menyebabkan semua itu terjadi? Ketegaran tengkuk dan ketidaktaatannya terhadap Firman Tuhan (ayat 8, 9, 18-19). Sebenarnya ketidaktaatan Saul ini bukanlah yang pertama kali; di dalam pasal 13 kita dapat melihat bagaimana Saul mempersembahkan korban, meskipun itu bukan haknya. Saul menjadi kehilangan kerendahan hatinya bila tidak hendak menyebutnya rendah diri, seperti pada saat hendak diurapi menjadi raja (1Sam. 9:21; 15:17), serta berubah menjadi bebal, sombong dan tinggi hati. Alih-alih menyesal dan mengakui kesalahan, Saul justru berdalih dan membenarkan dirinya sendiri di hadapan Samuel dengan alasan yang sangat rohani serta merta menyalahkan rakyat yang mengikutinya (ayat 22, 24). Sesungguhnya Saul tidak pernah belajar dari kesalahan yang dibuatnya!

Ketidaktaatan berakibat pada penolakan dan penyesalan Allah, “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku; Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel” (bnd. ayat 11, 35). Jabatan raja yang semula dipegang Saul, dikoyakkan Allah dan diberikan kepada orang lain (ayat 28), Daud (pasal 16). Ketidaktaatan juga menyebabkan rusaknya hubungannya dengan Samuel, nabi yang mengurapi dan yang sangat dihormatinya. Menimbulkan sakit hati dan dukacita yang begitu mendalam. (ayat 11, 35). Bahkan, sampai akhir hidupnya, Samuel tak pernah bertemu Saul lagi (ayat 35). Ironis!

STUDI PRIBADI: (1) Ketidaktaatan Saul mengakibatkan penolakan Allah dan rusaknya relasinya dengan Samuel, bagaimanakah dengan kita? (2) Bagaimana langkah konkret kita untuk hidup taat kepada Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah agar kiranya Tuhan Yesus melalui Roh Kudusnya, memampukan setiap kita menjadi menjadi anak-anak Tuhan yang taat dan hidup setia di hadapan-Nya.

Share Button