“Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami.” (3 Yohanes 1:9)

Salah satu problem terbesar yang seringkali dihadapi oleh para pelayan Tuhan adalah “antara apa yang diyakini tidak sejalan (baca: bertentangan) dengan apa yang dijalani dan dilakukan di dalam hidup.” Inilah yang nampak di dalam diri Diotrefes pemimpin yang melayani jemaat pada waktu itu. Di dalam tulisan 3 Yohanes, tampak perbedaan yang jelas antara Gayus yang disebut hidup di dalam kebenaran dan Diotrefes yang menolak kebenaran. Kebenaran di dalam konteks ini dipahami terkait dengan “keyakinan iman yang tampak di dalam praktik hidup yang melayani.” Hal ini gagal ditampilkan oleh Diotrefes.

Beberapa hal dilakukan oleh Diotrefes menunjukkan “hidupnya tidak sejalan dengan kebenaran” pada waktu itu adalah:

Pertama, menolak kepemimpinan dan ajaran rasul Yohanes atas jemaat (ay. 9). Diotrefes menolak kepemimpinan dan ajaran rasul Yohanes, karena dia adalah “seorang pemimpin” yang terkemuka (=pemimpin yang mau diakui) di depan jemaat. Mengapa hal itu bisa terjadi? Gaebelain menjelaskan demikian: “Because unlike the apostle and beloved Gaius, he did not give the Lord Jesus Christ the preeminance in all things; he did not walk in the truth.” Apa yang dilakukan oleh Diotrefes tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang berpegang pada prinsip kebenaran yang diyakini dan dijalani para pemimpin saat itu. Para rasul dan para pemimpin Kristen mula-mula memegang prinsip bahwa “Pemimpin adalah seorang pelayan dan hamba yang melayani” (bnd. Matius 20:26-27).

Kedua, bertindak semena-mena dan merusak pelayanan (ay. 10). Tindakan semena-mena yang telah dilakukan oleh Diotrefes adalah: memfitnah dan berbicara kasar terhadap rasul Yohanes; menolak para misionaris; mencegah jemaat untuk menerima para misionaris dan mengucilkan jemaat yang menerima para misionaris. Sikap dan tindakan ini tidak menunjukkan bahwa Diotrefes adalah seorang pelayan yang sedang melayani jemaat. Diotrefes adalah pemimpin yang melayani dengan arogan. Seseorang berkata, “A true Christian leader is a servant, not an autocrat”

Sebagai seorang Kristen kita belajar bahwa pelayanan harus dilakukan dengan benar dan bertanggung jawab. Kita menjadi pemimpin yang melayani dan BUKAN menjadi pemimpin yang arogan dan “NGE-BOSI” di dalam menjalankan pelayanan gerejawi. Jebakan para pemimpin dan pelayan Kristen hari ini adalah “menjadi BOS atas penatalayanan gerejawi.” Kita dapat menjadi pemimpin yang melayani dan hidup di dalam kebenaran, jika kita menempatkan Tuhan Yesus Kristus dan kasih-Nya lebih utama di dalam semua hal yang ada di dalam kehidupan kita. Biarlah ini menjadi spirit yang mendasari kehidupan dan pelayanan kita bersama, Amin. *

Share Button