“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7)

Proses mendidik anak bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Di dalam perjalanan itu memerlukan kerja keras, kesabaran, ketekunan, dan waktu yang sangat-sangat panjang. Bahkan setelah begitu banyak pengorbanan yang diberikan, ada banyak orang tua yang mengalami kekecewaan, luka hati, rasa frustasi, dan putus asa di dalam mendidik anak mereka. Karena itu tidak heran, jika ada orang-orang yang akhirnya memutuskan tidak mau menikah atau tidak mau memiliki anak. Orang-orang ini merasa hidup saja sudah sangat sulit, kenapa harus lebih dipersulit dengan tanggung jawab mendidik anak.

Sebagai orang Kristen tentu kita tidak boleh berpikir demikian. Di satu sisi memang kita menyadari bahwa mendidik anak bukan sebuah perkara yang sederhana. Namun disisi yang lain kita harus menyadari bahwa mendidik anak merupakan panggilan dan bagian dari rencana Tuhan untuk menyempurnakan kita sebagai pengikut Kristus. Jadi bisa kita katakan mendidik anak adalah salah satu proses yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita semakin serupa dengan Kristus melalui anak-anak kita.

Sebagai contoh, salah satu aspek dalam mendidik anak adalah dalam hal kerohanian mereka. Ulangan 6:4-9 meminta orang tua untuk mendidik anak secara rohani—mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Namun jika kita cermati, perintah ini sebenarnya diberikan pertama-tama kepada orang tua, bukan kepada anak. Orang tua diminta terlebih dahulu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka, setelah itu barulah mereka harus mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak mereka.

Sayangnya, kebanyakan orang tua Kristen seringkali terbalik. Kebanyakan mereka fokus memerintahkan anak-anak mereka untuk hidup mengasihi Tuhan tetapi mereka sendiri mengabaikan pertumbuhan rohani mereka. Akibatnya, bisa jadi anak-anak mereka menjadi orang yang terus bertumbuh semakin serupa Kristus, tetapi sebaliknya orang tua tidak bertumbuh semakin serupa Kristus. Hal demikian tidak boleh terjadi. Perintah mendidik anak untuk mengasihi Tuhan diberikan supaya orang tua dan anak sama-sama mengalami proses pembentukan untuk semakin serupa dengan Kristus.

Oleh karena itu, ada dua hal yang bisa kita simpulkan dari perenungan kita. Pertama, jangan menyerah dalam mendidik anak kita. Proses mendidik itu memang berat, tetapi di dalamnya ada berkat yang sangat besar untuk para orang tua, yaitu orang tua sendiri diubahkan semakin serupa Kristus. Kedua, orang tua Kristen tidak dapat menghindar dalam mewariskan kebiasaan-kebiasaan tertentu kepada anak mereka. Mempunyai anak akan selalu disertai dengan tanggung jawab mendidik mereka, bahkan sampai ke beberapa generasi. Pertanyaannya, apakah kita sudah menjalankan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita? Secara khusus dalam mendidik mereka untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan mereka melalui teladan hidup kita. *

Share Button