“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16)

Sarjana Alkitab William Barclay pernah bercerita tentang pengalaman pertobatan seorang tentara ateis yang tergabung dalam pasukan Inggris pada masa Perang Dunia I. Ketika gencatan senjata terjadi untuk waktu yang cukup lama, ia ingin mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Ia memutuskan diri untuk meminjam buku apa saja dari seorang pendeta. Namun, satu-satunya buku yang dimiliki pendeta itu adalah Alkitab. Semula ia menolak Alkitab itu, tetapi kemudian ia mengambilnya, dan mulai membaca Perjanjian Lama secara acak.

“Kebetulan” (baca: dalam kehendak & anugerah Tuhan) ia membaca kisah Ester dan sangat terpikat olehnya, maka iapun memutuskan untuk membaca seluruh Alkitab. Ketika membaca Alkitab, ia pun sadar bahwa apa yang dibacanya itu benar, dan ia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada anak rohaninya, yaitu Timotius, juga mengajarkan, bahwa Alkitab adalah firman Allah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia (2Tim. 3:16). Alkitab berbeda dari buku-buku lain di dunia, karena Alkitab adalah firman Allah. Alkitab diberikan kepada manusia agar mereka dapat mengenal keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus (ay. 15) dan memiliki kehidupan moral yang baik, yang sesuai dengan maksud Allah (ay. 17). Boleh dikata, bahwa Alkitab itu adalah “buku manual kehidupan” yang Tuhan berikan agar manusia hidup berkenan di hadapan-Nya.

Pentingnya Alkitab inilah yang harus diingat oleh Timotius agar ia dapat menjadi seorang pelayan yang diperkenan Tuhan, sebab ia tinggal di kota Efesus, kota yang penuh dengan kehidupan amoral dan kegelapan religinya (2Tim. 3:1-9). Tanpa mengerti dan mentaati perintah Alkitab adalah sulit bagi Timotius yang masih muda untuk dapat membendung pengaruh buruk masyarakat di sekitarnya. Bagaimana dengan Anda hari ini? Masihkah Anda setia membaca dan merenungkannya? Puji Tuhan, jika Anda masih setia membacanya! Tetapi marilah kita tidak hanya sekedar membaca untuk mengetahui seluruh isi Alkitab, tetapi juga membaca untuk mentaatinya. Jadikan Alkitab sebagai “buku manual kehidupan.” Dengan demikian, maka Anda akan menemukan kebebanaran, yaitu kebenaran yang memerdekakan dan mengubah hidup Anda! Amin. *

Share Button