Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.” (1 Raja-Raja 17:13)

Perkataan Elia kepada janda di Sarfat dalam ayat di atas “buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar” ini, sekilas bermakna bahwa Elia mengalami kelaparan sehingga dia meminta belas kasihan janda itu. Ini adalah satu permohonan agar supaya Elia dikenyangkan oleh roti yang akan disediakan oleh si janda itu. Tetapi jikalau diteliti lebih lanjut, sesungguhnya ini adalah cara Tuhan agar Elia boleh menemui janda di Sarfat, yang adalah penduduk dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan.

Pada saat Elia berkata “buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar,” bukan berarti Tuhan sudah kehabisan cara untuk memenuhi kelaparan yang dialami Eli. Bukan juga karena Tuhan kehabisan makanan untuk Elia. Di dalam keMahakuasaan-Nya, Tuhan sanggup menggunakan cara lain agar supaya Elia bisa terpelihara dari kelaparannya. Tetapi Tuhan menggunakan cara yang sangat tidak terduga oleh akal sehat kita, mengutusnya kepada janda di Sarfat, yang juga saat itu mengalami kelaparan.

Perkataan “…Buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar,” bukan karena Tuhan kekurangan makanan, sehingga Tuhan harus memohon kepada janda di Sarfat untuk memberikan makanan kepada Elia. Perkataan ini adalah cara Tuhan menyatakan diri-Nya kepada janda yang belum mengenal Tuhan secara pribadi. Perkataan ini adalah cara Tuhan menantang janda yang sedang mengalami krisis sampai ke titik paling bawah dalam hidupnya, untuk beriman dan percaya pada Allah Israel, Allah yang hidup dan Allah yang benar. Perkataan ini juga adalah ungkapan Tuhan tentang isi hati Tuhan, bahwa betapa Tuhan rindu setiap kita, umat-Nya yang percaya kepada-Nya mendahulukan Tuhan dalam seluruh aspek hidup kita.

Saat Tuha memanggil Saudara untuk melayani, itu adalah panggilan anugerah dan panggilan penuh kasih dari Tuhan kepada Saudara. Renungkan panggilan Tuhan untuk melayani-Nya, dan yakinlah saat Tuhan memanggil Saudara dan mempercayakan satu pelayanan kepada Saudara, Tuhan yang akan melengkapi Saudara. Jikalau bidang pelayanan itu baru bagi Saudara, yakinlah Tuhan yang mencukupkan bahkan melimpahkan kasih karunia-Nya untuk Saudara, agar bisa bertumbuh dan berbuah bahkan menjadi berkat di bidang pelayanan yang baru itu. Jikalau Saudara merasa tidak punya karunia di sana, percayalah Tuhan tidak akan pernah memanggil orang yang merasa punya dan merasa diri mampu. Akan tetapi panggilan Tuhan kepada Saudara untuk melayani Tuhan, adalah panggilan agar Saudara menyerahkan diri lebih lagi kepada Tuhan dan mengalami Tuhan dalam pekerjaan Tuhan. Saat ini Tuhan memanggil kita “Maukah Engkau melayani Aku sebagai… (sesuai dengan yang Tuhan percayakan)?” Maukah Saudara taat kepada panggilan Tuhan untuk melayani-Nya dan mempercayakan segalanya kepada Tuhan, serta mengalami pengalaman yang lebih indah bersama-Nya dalam pembangunan tubuh Kristus di mana Tuhan tempatkan Saudara melayani? *

Share Button