Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kisah Para Rasul 9:15-16)

Pepatah bahasa Indonesia mengatakan bahwa tidak kenal maka tidak sayang. Persoalannya adalah bagaimana kita mengenal, apabila kita tidak pernah berjumpa (bertemu secara pribadi) dengannya. Oleh sebab itu, pada perikop yang sudah kita baca ini, kita menemukan bahwa Rasul Paulus begitu giat dan semangat dalam melayani dan memberitakan Injil Tuhan serta memberikan pengaruhnya yang begitu hebat (Kisah 9:22). Padahal di awal Kisah dikatakan bahwa Saulus sebelum berganti nama dengan Paulus, sangat berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh para murid Tuhan (ay. 1, 2). Maka pertanyaannya adalah: sejak kapan Saulus berubah haluan dalam hidupnya? Atau, apa yang membuat Saulus mengalami perubahan hidup yang sangat radikal?

Menurut catatan Lukas, maka kita dapat menemukan apa yang menjadi penyebab terjadinya perubahan dalam hidup Saulus.

1. Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya secara pribadi kepada Saulus (ay. 4, 5). Ini memberikan pemahaman bahwa perubahan hidup seseorang selalu dimulai dari Inisiatif Allah untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Tanpa inisiatif Allah ini, maka tidak mungkin seseorang dapat mengalami perubahan hidup. Oleh sebab itu, pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah bukan perubahan apa yang akan terjadi dalam hidup kita melainkan sudahkah kita mengenal Tuhan, Sang Pemberi Hidup yang baru itu?

2. Saulus mengalami kebutaan dan harus dituntun untuk masuk ke Damsyik (ay. 7-9). Di sini, Alkitab menunjukkan betapa lemah dan terbatasnya keberadaan kita sebagai manusia. Kekuatan, kepandaian, kekuasaan, dan kehebatan Saulus menjadi sirna seketika ketika berjumpa Tuhan. Dan untuk memasuki kota Damsyik, ia harus dituntun dan tak berdaya.

3. Saulus berjumpa dengan Ananias, yang diutus oleh Tuhan untuk menjumpai Saulus. Pada awalnya Ananias berargumen dengan Tuhan, karena memang keberadaan dan tujuan Saulus pergi ke Damsyik sudah diketahui oleh semua orang, yakni hendak membunuh para murid Tuhan (ay. 10 – 17). Di sini kita dapat memahami bahwa Tuhan Allah seringkali mengutus diri kita untuk menjumpai orang-orang yang memiliki latar belakang hidup yang suram dan jahat, namun sebenarnya mereka sudah siap untuk dimuridkan menjadi murid Kristus. Apakah kita juga siap memberi diri untuk pelayanan ini?

4. Saulus bangun lalu dibaptis (ay. 18b). Perkataan yang singkat ini menunjukkan bahwa perjumpaan dirinya dengan Kristus telah merubah arah kehidupannya. Memberi diri dibaptis berarti secara terbuka mengakui imannya kepada Kristus di hadapan Allah dan orang lain, bahkan si jahat/Iblis.

Di zaman yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat dan dinamis, apakah kita menyadari bahwa ada satu perubahan yang harus kita alami selama kita hidup di dalam dunia ini. Perubahan itu adalah perjumpaan kita secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat dunia ini. Oleh sebab itu, saat Kristus “menyapa” diri kita, jangan keraskan hati, melainkan tundukkan diri menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kita. Dari perjumpaan inilah maka kita dapat melangkah untuk semakin mengenal dan mengasihi Kristus dalam hidup kita selama di dunia ini. Tuhan Yesus menantikan kita pada hari ini. Apakah respons saudara sekalian? *

Share Button