“Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mazmur 73:1-3)

Pemazmur menyakini bahwa Allah itu baik. Baik bagi mereka yang hatinya tulus dan bagi mereka yang hatinya bersih. Namun, hampir saja dalam pandangan Asaf, keyakinan teologis ini tidak berlaku. Alasannya, karena hampir saja Asaf jatuh ke dalam kekecewaan kepada Allah. Dalam kenyataannya, ia melihat bahwa orang-orang fasik ini mujur hidupnya. Tidak ada penderitaan pada mereka. Mereka terlihat sehat dan gemuk. Mereka tidak mengalami kesusahan dan tidak kena tulah seperti orang lain. Bukankah mereka adalah orang-orang yang congkak, yang melakukan kekerasan kepada orang lain? Kesalahan mereka begitu jelas dan banyak. Hati mereka meluap-luap dengan tudingaan. Mereka suka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya. Hal pemerasan mereka bicarakan dengan tinggi hati. Bahkan, mereka membuka mulut mereka melawan dan mencela Allah dengan berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” (ayat 11). Bukan itu saja, harta mereka pun bertambah-tambah dan mereka hidup dalam kesenangan selamanya (ayat 12). Demikianlah kenyataan yang Asaf lihat dari kehidupan orang-orang fasik.

Hal ini membuat Asaf menjadi cemburu kepada kemujuran mereka. Bahkan, ia tidak habis pikir dan sulit baginya untuk dapat memahami alasan mereka bisa mengalami kemujuran dan kesenangan sedemikian, sedangkan dirinya tidak (ayat 16). Ia merasa sia-sia sama sekali mempertahankan hati yang bersih dan berlaku baik di hadapan Tuhan dan sesama. Karena, bukannya kemujuran dan kesenangan yang ia peroleh, namun sebaliknya sepanjang hari ia kena tulah dan kena hukum setiap pagi. Hal ini sampai-sampai membuatnya kecewa kepada Allah dengan meragukan dan mengkhianati keyakinannya akan keberadaan Allah dan sifat-Nya yang baik itu (ayat 1).

Namun, ketika Asaf masuk ke tempat kudus Allah dan Allah membukakan bagaimana sesungguhnya kesudahan mereka, maka berubahlah pandangannya mengenai keadaan orang fasik tersebut. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Allah menaruh mereka, bahkan Allah menjatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasanya mereka dalam sekejap mata. Mereka lenyap dan habis oleh karena kedahsyatan murka Allah. Bahkan, betapa hinanya keberadaan mereka di hadapan Allah. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada Asaf bagaimana sesungguhnya akhir dari kehidupan orang-orang fasik tersebut. Oleh karena itu, walaupun Asaf masih mengalami dukacita dalam pergumulan itu (ayat 21-22), ia tetap memercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia yakin pada waktunya Allah akan menyelamatkannya (ayat 23-37). Asaf bertekad untuk memasyurkan kebaikan Allah (ayat 28).

Ada dua hal yang perlu kita renungkan dari bacaan kita ini. Pertama, jangan biarkan keyakinan iman kita kepada Allah itu dirusak oleh perasaan iri dan cemburu melihat kehidupan orang fasik yang kelihatanya baik dan sejahtera, sedangkan diri kita yang hidup sungguh-sungguh beriman dan mempertahankan hati yang bersih di hadapan Allah justru mengalami hidup susah dan menderita. Kita beranggapan bahwa sia-sia saja mempertahankan hati yang bersih dan berlaku baik di hadapan Allah. Kedua, lihat dan perhatikanlah pergumulan yang kita hadapi mengenai kehidupan orang fasik tersebut dari perspektif Tuhan Allah. Kita akan mendapati bahwa sesungguhnya Allah itu baik dan setia adanya. Bahkan, Ia sangat mengasihi kita walaupun Ia mengizinkan kita menderita sementara orang fasik sepertinya menikmati hidup ini. Ketahuilah bahwa itu hanyalah masalah waktu. Bagi orang fasik, itu adalah kesempatan dalam kesabaran Allah untuk bertobat sebelum dihancurkan. Bagi kita orang percaya, itu adalah kesempatan menyaksikan iman sejati yang tetap percaya bahwa Allah itu baik bagi mereka yang lurus dan bersih hatinya.

Oleh karena itu, walaupun saat ini kita masih mengalami dukacita dalam pergumulan karena mempertahankan hidup bersih di hadapan Tuhan Allah, biarlah kita tetap memercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Biarlah kita memandang pergumulan kita ini dari persepektif Tuhan dan bukan dari keinginan diri kita semata. Percayalah bahwa pada waktunya kita akan melihat segala sesuatunya itu baik dan indah adanya. Tetaplah percaya kepada Tuhan dan memasyurkan akan kebaikan-Nya di dalam hidup kita. Amin. *

Share Button