“Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (Kejadian 6:9)

Pernahkah Anda membayangkan ketika Anda menjadi satu-satunya orang yang melakukan hal benar di antara sekian banyak orang yang sudah berkompromi untuk melakukan hal yang salah? Tentu berjuang untuk bertahan dan memilih hidup benar merupakan pilihan yang sulit. Namun, Alkitab mencatat bahwa ada seorang yang bernama Nuh yang tetap memilih untuk hidup benar sekalipun orang-orang disekitarnya berlaku jahat (bandingkan Kejadian 6:5).

Kejadian 6:9 mencatat dengan jelas bahwa: ‘Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.’ Di saat orang-orang sezamannya sibuk dan menghabiskan waktu untuk hidup dalam kesenangan, melampiaskan hawa nafsu mereka, mendengar apa yang mau mereka dengar, melihat apa yang mau mereka lihat, mengingini sesuatu berdasarkan keinginan daging semata-mata, tetapi Nuh justru sebaliknya. Dia memakai waktu hidupnya untuk bergaul dengan Allah, dia memakai waktunya untuk mendengar apa yang ingin Tuhan sampaikan, dia memakai hidupnya untuk beriman sepenuhnya kepada Allah (bandingkan Ibrani 11:7). Bagaimana dengan Anda?

Kalimat ‘seorang yang benar dan tidak bercela’ perlu dimengerti dengan cara demikian: bahwa hidup benar berarti menyesuaikan diri, mencocokkan diri dengan standar, kehendak dan karakter Allah. Sedangkan frasa ‘tidak bercela’ bukan berarti tanpa dosa, tetapi hal ini menegaskan tentang Nuh yang berespon kepada Allah dengan segenap hati dan mencari cara untuk menyenangkan hati Allah dan menghindari dosa.

Namun, satu hal yang perlu dipikirkan ialah apakah yang memungkinkan Nuh untuk hidup benar, tidak bercela dan bahkan bergaul dengan Tuhan? Kejadian 6:8 memberikan pencerahan akan hal ini, yakni: ‘Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.’ Kehidupan Nuh yang demikian seharusnya dimengerti dari kacamata kasih karunia. Satu-satunya yang memungkinkan seorang berdosa untuk dapat bergaul dengan Tuhan ialah karena dia mendapat kasih karunia. Hal ini konsisten dengan pengajaran Alkitab yang menyatakan bahwa jika seorang Kristen dapat berbuat baik, hidup saleh, maka itu semata-mata karena kasih karunia Allah. (bandingkan Efesus 2:8-10)

Adapun, Nuh meresponi kasih karunia Tuhan dengan cara yang benar. Mempercayai dan menaati perintah-perintah Tuhan merupakan respon yang benar dari Nuh. Rasa percaya dan sikap taat itu ditunjukkan melalui peristiwa membangun bahtera. (Bandingkan : Kejadian 6:22; 7:5) Tindakan percaya dan taat sepenuhnya merupakan kunci utama dalam kehidupan yang bergaul dengan Allah. Seseorang pernah berkata: The more we trust God, the more intimately we come to know Him. Adakah kehidupan Anda sepenuhnya mempercayai dan taat akan perintah-perintah-Nya? Maukah Anda dikenal sebagai pribadi yang hidup benar, tidak bercela dan bergaul dengan Tuhan? Responilah kasih karunia yang sudah Tuhan berikan kepada Anda dengan benar. *

Share Button