“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58)

Manusia adalah mahluk sosial yang hidup bergantung satu dengan lainnya, saling mengisi, saling melayani. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup secara mandiri dalam arti sepenuhnya. Kita saling membutuhkan, saling melengkapi. Di sini lainnya, manusia juga punya kemampuan saling menghargai, saling membalas kebaikan. Maka bergulirlah kehidupan; yang satu bekerja untuk yang lain, dan melaluinya mendapatkan upah. Pemberian orang lain, ditanggapi dengan rasa terima kasih.

Semua orang bekerja, dengan kategori yang berbeda, tapi dengan semangat yang sama. Demi upah, orang bekerja melebihi waktu kerja secara umum, bahkan ada yang bekerja belasan jam setiap hari. Katanya ini tuntutan pekerjaan, dan orang cepat beradaptasi dengan kondisi ini. Dan karena ini sudah menjadi kondisi umum, maka semua orang pun mengikuti arus. Orang Kristen pun tidak terkecuali.

Yang menjadi masalah adalah bahwa ketika kita terhisap dalam arus seperti itu, dan setiap orang dipaksa untuk terus fokus pada bekerja, bekerja dan bekerja, maka konsekuensinya adalah tenaga bahkan jiwa akan terkuras secara pelan-pelan tapi pasti. Bagi anak-anak Tuhan, ini bisa sangat mempengaruhi kesediaannya untuk melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Secara logika, ketika orang bergairah untuk dirinya sendiri, dia sulit bergairah untuk Tuhan.

Di titik ini, kita sangat perlu menangkap dan memahami apa yang Paulus sampaikan; kebangkitan Kristus yang telah mengalahkan kuasa dosa, menjadi dasar bagi penebusan diri kita sebagai orang berdosa. Penebusan itu kita alami, bukan karena kita pantas menerimanya tapi semata-mata adalah karena anugerah berdasarkan kedaulatan Allah. Kalau ini dipahami, maka seharusnya gairah hidup kita tidak lagi kita habiskan untuk bekerja, untuk menambah kekayaan saja. Gairah kita, seharusnya kita arahkan untuk Dia, untuk mengerjakan rencana-Nya.

Bergairah untuk pekerjaan dunia, satu hari akan menguras habis kesehatan dan jiwa kita, dan apa pun yang dapat kita raih, tidak dapat kita bawa pergi dari dunia ini. Tapi bergairah untuk Tuhan tidak akan sia-sia, sebab kita sedang bermitra dengan Allah yang sedang berkarya dalam sejarah. Sebaliknya bergairah untuk Tuhan justru akan membawa kita menemukan makna hidup yang paling tinggi, dan itu akan mendatangkan sukacita dan kepuasan yang sejati. *

Share Button