“Demi di dengar Daniel, bahwa surat itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya, ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:11)

Dalam bukunya berjudul the Big Idea, Dave Ferguson dan rekan-rekannya memberikan pandangan yang cukup provokatif dan menantang tentang kehidupan orang Kristen. Ia mengatakan, jika kekristenan itu adalah sesuatu yang tidak berbeda dari apa yang ada dalam dunia ini, apakah kekristenan itu adalah sesuatu yang layak diperjuangkan, dan bahkan untuknya kita rela berkorban? Pertanyaan Dave Ferguson ini muncul karena sebuah pergumulan, bahwa banyaknya orang Kristen yang hidup tidak jauh berbeda dari mereka yang non-Kristen; bahkan keduanya nampak sama saja. Jika kehidupan Kristen masa kini adalah seperti demikian, maka Kekristenan tidak akan membawa dampak positif dan transfomatif bagi sekitarnya. Menurut Dave Ferguson, untuk berdampak kita harus berani hidup berbeda, sama seperti Kristus hidup.

Dalam Daniel pasal 6, kita melihat bahwa Daniel memiliki cara hidup yang berbeda dari orang-orang sekitarnya, dan kehidupannya membawa dampak yang luar biasa dalam pemerintahan Darius, bahkan sampai pada zaman raja Koresh (ay. 29). Bagaimana ini bisa terjadi?

Pertama, ia memiliki pertimbangan pemikiran yang berbeda dan jauh lebih baik dalam mengatur pemerintahan dan kejujuran, dibandingkan dengan para pejabat tinggi lainnya (ay. 1-4). Itulah sebabnya Daniel disukai orang raja Darius.

Kedua, ia adalah seorang yang saleh dan taat kepada TUHAN. Ketika rekan-rekan pejabat tinggi lainnya menjadi iri hati karena Daniel mendapat kepercayaan yang lebih dari raja Darius, maka mereka mencoba merekayasa kesalahan bagi Daniel melalui kesetiaannya kepada TUHAN. Mereka membujuk raja, agar raja mengeluarkan perintah, barangsiapa dalam waktu tigapuluh hari menyampaikan permohonan kepada allah lain, selain kepada raja Darius, maka mereka harus dilemparkan ke gua singa. Dengan siasat itulah, mereka menjerat dan menuduh Daniel sebagai pelanggar perintah raja, oleh sebab Daniel taat dan setia berdoa kepada Allah seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya. Maka Danielpun dilemparkan ke dalam gua singa (ay. 5-19).

Ketiga, Daniel rela membayar harga demi kepercayaannya kepada TUHAN. Ia tidak takut dengan hukuman raja, bahkan siap menghadapi hukuman itu. Namun TUHAN tidak membiarkan Daniel binasa diterkam oleh singa. Sebaliknya TUHAN mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa tersebut. Hasilnya adalah, ketika pagi-pagi itu, raja Darius menemukan bahwa Daniel masih hidup, maka yang terjadi Daniel ditarik keluar dari gua itu; dan sebaliknya mereka yang merekayasa kesalahan bagi Daniel dimasukan ke dalam gua singa itu, bersama keluarganya, dan mereka diterkam oleh singa-singa itu. Maka Darius memaklumatkan agar masyarakatnya takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Ia adalah Allah yang hidup, yang telah melepaskan Daniel dari cengkraman singa-singa (ay. 20-28). Bagaimana dengan kita?

Janganlah kita serupa dengan dunia ini, baik dalam perkataan, tingkah laku, maupun cara berpikir kita. Hiduplah sesuai Injil TUHAN dan ikutilah teladan Kristus. Jika pada zamannya Daniel berani tampil beda, sehingga ia dapat membawa pengaruh yang baik dan transformatif bagi pemerintahan Darius; maka pada zaman ini, jika kita mengikuti teladan Kristus, dalam kasih-Nya, kebenaran-Nya, kerendahan hati-Nya, kesetiaan-Nya, ketaataan-Nya, dstnya; maka kita akan membawa dampak positif dan transformatif bagi orang-orang di sekitar kita. Kita berani berbeda, karena TUHAN Allah kita, adalah Allah yang hidup! Amin. *

Share Button