Tragedi Kebun Anggur Nabot

Posted by Perspektif — Mei 2013
May
6

Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 21:1-29

“Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.” (1 Raja-raja 21:15)

Suatu kali, Ahab, seorang raja dari kerajaan Israel (Samaria) mempunyai sebuah keinginan, yaitu untuk memiliki sebuah kebun anggur yang ada di samping istananya. Ia melihat bahwa kebun anggur tersebut cocok sekali kalau ditanami sayur. Untuk itu ia memohon dengan penuh harap kepada Nabot, pemilik kebun anggur tersebut, agar memberikan kebun anggurnya (ay. 2). Namun keinginannya tersebut tidak terpenuhi, karena Nabot menolaknya. Nabot menolak bukan karena dia tidak mengindahkan permintaan raja, tetapi karena apa yang diminta raja merupakan milik pusaka keluarganya (ay. 3). Sebagai anak yang mewarisi milik pusaka nenek moyangnya, maka sudah merupakan kewajiban bagi Nabot untuk mempertahankannya, sesuai aturan hukum Musa (bdk. Bil. 36:7,9).

Saat keinginannya tidak terpenuhi, maka Ahab menjadi kesal hati dan gusar. Ia mutung dan melakukan aksi mogok makan (ay. 4). Rupanya, suasana hati Ahab tersebut telah menarik perhatian Izebel, istrinya (ay. 5). Sebagai seorang istri, Izebel menunjukkan perhatiannya kepada Ahab, suaminya. Ia berjanji akan memenuhi keinginan Ahab untuk memiliki kebun anggur Nabot tersebut (ay. 7). Kemudian dengan kelicikannya, Izebel menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, yaitu merampas kebun anggur Nabot (ay. 8-10). Demikianlah Izebel memenuhi keinginan Ahab yang ditolak oleh Nabot, dengan rekayasa (ay. 14-15).

Perbuatan Ahab ini jelas sangat tidak terpuji dan tidak patut untuk kita teladani. Jika kita menginginkan sesuatu, janganlah kita menjadi seorang yang memaksakan kehendak dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kita. Jauhlah dari kita sikap dan perbuatan yang sedemikian. Tuhan tidak menginginkan hal tersebut. Bahkan Dia murka terhadap orang-orang yang berlaku demikian (ay. 21-24). Sebagai umat Tuhan, marilah kita menunjukkan sikap hati yang takut akan Tuhan dan mengasihi sesama kita. Jika ada masalah selesaikan dengan benar, dan jangan merekayasanya demi keuntungan kita sendiri.

STUDI PRIBADI: Mengapa Ahab membiarkan istrinya melakukan rekasaya demi memenuhi keinginannya? Saat keinginan Anda tidak terpenuhi, bagaimanakah sikap Anda?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah agar kita ditolong Tuhan untuk mempunyai sikap yang benar saat keinginan kita tidak tercapai, dan tetap menunjukkan sikap yang takut akan Tuhan dan mengasihi sesama.

© Perspektif — Do not face the day until you have faced God

google search…

Ingin menerima renungan Perspektif melalui e-mail? Daftarkan alamat e-mail Anda di sini:

Delivered by FeedBurner