Mengalami Keputusasaan

Posted by Perspektif — Mei 2013
May
5

Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 19:1-8

“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati…” (1 Raja-raja 19:4)

Ketika seseorang mengalami keputusasaan yang hebat, yang mungkin ada di pikirannya adalah segera mengakhiri hidupnya. Hal ini nampak dalam perjalanan kehidupan Nabi Elia. Nabi Elia adalah seorang nabi yang berjuang sungguh-sungguh untuk Tuhan. Ketika ia menghadapi para nabi Baal, ia bisa menunjukkan kuasa Tuhan yang benar, dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para nabi Baal yang didukung oleh Izebel, istri Ahab. Para nabi tersebut akhirnya mati di tangan Elia (1Raj.18:40).

Kematian para nabi Baal ini mendatangkan kemarahan dan dendam yang sangat besar dari Izebel, istri Ahab, kepada Nabi Elia. Izebel membuat suatu ancaman terhadap Nabi Elia dan berjanji akan membunuhnya (1Raj. 19:2). Muncul pertanyaan: “Mengapa Nabi Elia sangat takut menghadapi ancaman itu?” (1Raj. 19:3). KJV menerjemahkan secara berbeda untuk ayat 3, demikian: “Dan ketika ia [Elia] melihat itu, ia bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya.” Istilah “melihat” (ra’ah) diterjemahkan dengan “mempertimbangkan”, atau “melihat dengan seksama”, atau “memperhatikan”. Jadi, Nabi Elia bukannya takut menghadapi ancaman dari Izebel tentang kematiannya, melainkan karena Elia melihat apa yang telah dilakukannya terhadap nabi-nabi Baal, tidak menyebabkan Izebel menyerah, sebaliknya mengancam dia. Maka Elia mengambil keputusan untuk melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya, dan pergi ke Gunung Horeb. Di sana ia meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya. Tuhan tidak melakukan sebagaimana yang Elia inginkan, sebaliknya Tuhan memberikan Nabi Elia makanan untuk dimakan (1Raj. 19:4-8).

Pada umumnya orang Kristen memiliki pergumulan hidup yang hampir sama dengan Nabi Elia, meski masalahnya berbeda. Orang Kristen seringkali putus asa melihat persoalan yang dihadapi tidak kunjung selesai, seolah-olah kuasa Tuhan terbatas dibandingkan dengan persoalannya. Namun percayalah, Tuhan tidak pernah tinggal diam. Ia tahu kapan waktu dan saat-Nya untuk bertindak (Mzm. 37:5-6).

STUDI PRIBADI: Bagaimana sikap Elia dalam menghadapi ancaman Izebel? Bagaimana seharusnya sikap kita saat ancaman dan kesulitan belum juga terselesaikan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat yang menghadapi sakit yang tidak kunjung sembuh, agar imannya tetap kuat dan tekun berserah pada kehendak maupun waktu Tuhan dalam menjawab doanya.

© Perspektif — Do not face the day until you have faced God

google search…

Ingin menerima renungan Perspektif melalui e-mail? Daftarkan alamat e-mail Anda di sini:

Delivered by FeedBurner