Henokh: Berjalan Bersama Tuhan

Editorial SEPTEMBER 2016
Jika berjalan bersama Tuhan itu sangat penting bagi kita; apa artinya “berjalan bersama Tuhan” itu? Mari kita belajar dari Henokh. Nama “Henokh” berarti “membaktikan” atau “mengabdikan” (Ing. “Dedication”). Namanya cocok dengan apa yang dilakukannya. Selama 65 tahun, Henokh hidup tidak bergaul dengan Allah. Namun, Alkitab mencatat, bahwa setelah usia 65 tahun itu, Henokh membaktikan dirinya kepada Tuhan. “Membaktikan diri” kepada Tuhan berarti:

(1) Menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia mengakui bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, tetapi milik Tuhan (bdk. Gal. 2:19-20). Henokh telah menggunakan 65 tahun hidupnya untuk dirinya sendiri. 65 tahun hidupnya berlalu tanpa arti. Namun kemudian, Henokh menyadari, bahwa hidupnya adalah milik Tuhan, dan sejak saat itu, ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sampai usianya yang ke-365 tahun. Bagaimana dengan Anda? Maukah engkau mengakui, bahwa hidup Anda adalah milik Tuhan dan bukan milik sendiri?

(2) Membangun hubungan intim dengan Tuhan. Tidak ada waktu hidup yang tidak bersama dengan Tuhan. Berdoa senantiasa, merenungkan firman-Nya siang dan malam, serta melibatkan dan memuji Dia selalu. Setelah usianya yang ke-65 tahun, Alkitab mencatat, bahwa Henokh hidup bergaul dengan Allah secara kontinyu. Tidak ada waktu dalam hidupnya yang “tanpa Allah.” Ia memulai hidupnya bersama Allah. Ia menempatkan Allah di awal maupun di akhir aktivitas hidupnya. Merenungkan tentang Tuhan adalah kesukaannya.

(3) Melakukan perintah Tuhan dengan setia dan sukacita. Membaktikan diri tanpa ketaatan, bukanlah sebuah pembaktian diri. Demikian pula ketaatan yang terpaksa, tanpa kasih, bukanlah sebuah ketaatan.

Alkitab mencatat Henokh hidup bergaul dengan Allah. Istilah “bergaul” berarti “berjalan bersama Tuhan,” yaitu melakukan perintah dan kehendak Tuhan dengan setia. Terjemahan Inggris (NIV) mengatakan: “Enoch walked faithfully with God” (Henokh berjalan dalam kesetiaan dengan Tuhan). Artinya, Henokh tidak menuruti nasihat orang-orang yang tidak takut akan Allah, yaitu orang-orang berdosa, tetapi sebaliknya ia hidup sesuai dengan firman Tuhan. Itulah sebabnya Henokh memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang sezamannya. Ia tidak bersungut-sungut di hadapan Tuhan; ia tidak mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh di hadapan Tuhan; ia tidak mengeluh tentang nasibnya, seperti yang dilakukan orang-orang sezamannya. Sebaliknya, ia bersyukur dalam segala hal, sebab orang yang berjalan bersama Tuhan, hidupnya tidak kekurangan sukacita yang berasal dari Tuhan (bdk. Yudas 1:14-16). Bagaimana dengan Anda? Maukah Anda mengalaminya? Berjalanlah bersama Tuhan! Amin. *

September 2016
S M T W T F S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

google search…

Ingin menerima renungan Perspektif melalui e-mail? Daftarkan alamat e-mail Anda di sini:

Delivered by FeedBurner