Ayat Bacaan: Ulangan 32:1-11
“Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun... Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” (Ulangan 32:9-10)
Saat kita menderita, hendaknya kita bisa tenang dan mengutarakan semuanya pada Tuhan. Jangan tergesa-gesa memberitahukannya kepada orang lain, karena kadang orang lain mengetahui, tapi tidak dapat menyelami; mendengar, tapi tidak mampu menolong. Bukankah kita adalah umat pilihan Allah? Bukankah kita adalah biji mata Allah? Sebagaimana seorang melindungi biji matanya, sehingga tak sedikitpun debu dapat menempel, begitu cermat juga Tuhan melindungi anak-anak-Nya.
Dalam menghadapi bahaya dan kesulitan yang besar sekalipun, kita harus tenang, seperti yang dikatakan Musa kepada bangsa Israel tatkala dari belakang dikejar tentara Firaun dan di depan terbentang Laut Merah yang luas, “TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel.14:14).
Berapa banyak di antara kita yang tidak panik ketika diperhadapkan dengan bahaya atau masalah yang sulit? Ketenangan kita secara lahiriah membuktikan iman kita yang tidak nampak itu! Sayang sekali, pada saat pencobaan menimpa, kita lebih cenderung menceritakan kepada si-A, si-B, lari ke kiri ke kanan berupaya mencari jalan keluar; dan ketika menghadapi jalan buntu, barulah kita datang ke hadapan Tuhan dan memberitahukan masalah kita kepada-Nya. Pengalaman membuktikan, walaupun mulut kita berkata, “Bersandarlah kepada Tuhan”, tetapi dalam hati kita tetap mencari berbagai macam upaya. Walaupun lahiriah kita tenang, tetapi hati kita tetap bergejolak dan tidak kunjung tenang. Paulus menasihati, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32). Puji Tuhan! Dia selalu memperhatikan setiap segi kehidupan kita, dan selalu mencukupi segala yang kita butuhkan, pertolongan-Nya tepat pada waktunya.
Marilah kita belajar tenang menghadapi segala penderitaan, dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti menolong kita dan tidak akan membiarkan kita bergumul sendiri, karena kita adalah “Biji Mata-Nya.”
STUDI PRIBADI: Apa yang membuat kita gagal mempercayai campur tangan Tuhan dalam hidup kita? Sebagai biji mata Allah, ragukah kita menghadapi pasang surut kehidupan ini?
DOAKAN BERSAMA: Berdoa dan bersyukurlah karena Tuhan sekalipun tidak pernah meninggal-kan dan membiarkan kita berada dalam kesulitan, meskipun untuk seketika waktu, kita tidak mengerti jalan-Nya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index