Ayat Bacaan: Yesaya 56:1-12
“Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.” (Yes. 56:2)
Aturan Sabat bukan karangan manusia, melainkan ditetapkan Tuhan sendiri pada saat penciptaan. “...berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu...” (Kej. 2:1-3). Aturan Sabat ini diulangi kembali ketika bangsa Israel keluar dari negeri Mesir; “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (Kel. 20:8-10).
Istilah “ingatlah” mengandung arti, bahwa peraturan itu sudah pernah ada, tetapi telah dilupakan. Maka setelah mereka keluar dari Mesir, mereka diingatkan kembali untuk menjalankannya (Im. 23:3). Jika Tuhan bersabat pada hari yang ke-7 (Kej. 2:1-3), maka Tuhan juga menghendaki umat-Nya meletakkan segala pekerjaan dan kesibukan rutinnya untuk bisa menikmati anugerah dan sabat Tuhan sendiri. Kesalahan interpretasi terhadap sabat, menyebabkan sabat menjadi beban yang sangat berat sekali, bahkan menjadi batu sandungan bagi mereka.
Tuhan Yesus datang ke dunia memberikan sabat sejati bagi kita. Tidak heran jika Dia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat.11:28). Kelegaan sabat telah Tuhan sediakan bagi kita; namun mengapa kita justru tidak bisa menikmatinya? Jawabnya, karena kita telah melanggar perintah-Nya. Pada hari Sabat (Minggu), selain hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan kudus, hendaknya dihentikan dan diminimalisir, sehingga tidak mengganggu ibadah Minggu.
Ibadah Minggu adalah prioritas terutama, sedangkan hal-hal rutin lain dalam kehidupan kita adalah prioritas yang berikutnya. Sayang sekali, kita sering membalik prioritas utama menjadi yang terakhir, bahkan diabaikan. Ironisnya, kita selalu menuntut kepada Tuhan, agar Ia setia memberkati setiap aspek kehidupan dan bisnis kita. Jika ibadah Minggu bukan prioritas kita, adilkah jika kita menuntut Tuhan mendengar doa-doa kita?
STUDI PRIBADI: Untuk apakah Allah memberikan aturan tentang Sabat? Sudahkah kita memprioritaskan Ibadah Minggu di atas aktivitas lainnya?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka memiliki pengertian yang benar tentang hari sabat, sehingga tiap jemaat Tuhan dapat menghargai dan menjalankan ibadah Minggu secara serius dan setia.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index