Senin, 15 Maret 2010
Sukacita Dalam Penderitaan

Ayat Bacaan: Filipi 4:4
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Kehidupan ini adalah paradoks. Di satu sisi, manusia terus mengejar kenikmatan dan kesenangan, namun yang ada hanya penderitaan dan pergumulan, tidak ada sukacita sejati dalam hidupnya. Alkitab menjelaskan, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mzm. 90:10). Secara singkat dapat disimpulkan bahwa hidup manusia penuh dengan penderitaan dan pergumulan. Bagaimanakah dengan anak-anak Tuhan? Bukankah ada anugerah Tuhan yang menopang hidup mereka? Namun, kenyataan hidup tidak bisa dipungkiri, mereka juga tetap tidak pernah lepas dari penderitaan dan pergumulan hidup.

Persoalannya: Bagaimana orang-orang Kristen dapat tetap memiliki sukacita walaupun hidupnya penuh penderitaan dan pergumulan? Jawabnya adalah adanya keyakinan terhadap pertolongan Tuhan. Mereka dapat bersukacita di dalam penderitaan jikalau mereka memiliki keyakinan akan pertolongan Tuhan. Tanpa adanya keyakinan terhadap pertolongan Tuhan, tidak ada sukacita sejati di dalam hidup mereka.

Manusia adalah makhluk yang terbatas. Manusia bukanlah makhluk superior yang mampu menghadapi tiap persoalan dan tantangan hidupnya. Dalam keterbatasannya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan yang tidak terbatas. Kita bisa belajar hal ini dari kehidupan Paulus. Dalam segala kesulitan, bahkan ketika ada dalam penjara, sedang menantikan hukuman mati, Paulus menuliskan pada jemaat di Filipi, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Mengapa Paulus bisa berkata sedemikian ini? Karena keyakinannya akan pengharapan di dalam Tuhan bahwa Ia akan memberikan pertolongan.

Bagaimana dengan kita saat ini? Adakah kita memiliki sukacita sejati, walaupun hidup kita penuh dengan tantangan dan pergumulan? Sekali lagi, kita perlu meneladani sikap Paulus yang terus-menerus bersukacita, walau ada pergumulan dan tantangan hidup.

STUDI PRIBADI: Apa yang membuat orang Kristen mampu menghadapi persoalan hidup dan tetap bersukacita? Apa kita sudah melakukan hal yang sama seperti Paulus?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah kepada Tuhan dan memohon kekuatan dari-Nya agar kita mampu menghadapi persoalan kita, bukan berdasarkan hikmat pikiran sendiri, tetapi dengan hikmat bijaksana dan pertolongan Tuhan sendiri.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami