Minggu, 21 Februari 2010
Dukacita Mendatangkan Penghiburan

Ayat Bacaan: Matius 5:4
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4)

Bagi falsafah dunia, tidak ada sikap hidup yang paling dianggap patut dikasihani, selain pesimis dan cengeng. Dukacita, muka muram, semangat yang patah—hal itulah yang justru perlu disingkirkan dari perjuangan hidup. Lupakan masalah, tertawalah, hiburlah dirimu—tawaran ini nampaknya cukup baik dan banyak orang mengatakan telah berhasil mengangkat diri dari kejiwaan yang patah lesu karena dukacita, meskipun sebenarnya, semuanya itu adalah tidak mungkin! Menghindari rasa duka dengan mencoba seolah-olah melupakannya, lalu membius diri dengan berbagai macam penghiburan, adalah cara paling bodoh! Perkataan Tuhan yang paling jujur, “Berbahagialah orang yang berdukacita, kerena mereka akan dihibur.” Tanpa dukacita, tidak ada kebutuhan akan penghiburan!

Dukacita yang Tuhan maksud di sini bukan karena ditinggal mati atau kehilangan harta, tetapi adalah dukacita dalam arti rohani. Lihatlah diri kita sendiri yang sedang berdiri sebagai orang yang miskin di hadapan Allah. Bagaimana seharusnya kita hidup selaku anak-Nya? Apa kenyataannya? Apa yang lebih sering kita pikirkan, juga lakukan? Apakah pusat hidup kita? Ini adalah pengalaman rohani yang luar biasa tinggi nilainya. Ketika kita sampai pada kesadaran seperti itu, kita akan dihantam oleh suatu perasa-an duka yang dalam, bahwa sebagai orang yang telah dianugerahi, ternyata kita hidup dengan cara seperti ini. Kesadaran itu membuat kita meratap dan berdukacita. Ada apa dengan diriku sehingga aku seperti ini?

Ketika seseorang mampu melihat keberdosaan dirinya dan betapa ia tidak berpengharapan, ia merasakan butuhnya pertolongan Juruselamat. Dia datang pada Kristus dan menemukan bahwa dalam Dia ada pengampunan dosa, pendamaian, dan harapan. Dari keadaan keputusasaan yang dalam, dia melihat terang itu datang padanya, masuk ke dalam hatinya, dan dia terhibur. Ini bukan teori, inilah pengalaman rohani setiap orang Kristen sejati yang otentik. Tanpa pengalaman ini, kita tidak punya kebahagiaan! Tanpa kesadaran dosa, tidak ada dukacita sesungguhnya. Tanpa dukacita sesungguhnya, tidak ada kebutuhan akan penghiburan yang sejati. Tanpa penghiburan yang satu ini, tidak ada kebahagiaan yang sejati dalam hidup!

STUDI PRIBADI: Bagaimana pandangan Alkitab tentang dukacita (rohani); dihindari atau diterima? Mengapa Tuhan mengizinkan ita mengalami dukacita?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah kepada Tuhan agar Ia memberikan kemampuan pada kita untuk dapat merespons dengan tepat dukacita yang diijinkan-Nya terjadi di dalam hidup kita, sehingga kita beroleh penghiburan yang sejati.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami